Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Kalau ditanya siapa tokoh yang bisa dijadikan panutan terbaik sebagai pengikut jalan sufi/tasawuf, maka jawabannya adalah nabi Muhammad SAW. Siapa lagi manusia lain yang sanggup menandingi kemampuan makrifat beliau sebagai maqom tertinggi dalam proses 'tempat pemberhentian' tasawuf..?  Mana ada manusia lain yang pada setiap sudut qalbunya terisi rasa cinta kepada Allah, melandasi setiap gerak langkah, ucapan, ibadah dan bermuamalah melebihi Rasulullah..? Kita banyak menemukan catatan hadits yang mengisahkan rasa cinta beliau ini, mulai dari ketakutan nabi akan murka Allah sampai airmata yang jatuh karena rasa syukur menerima suatu wahyu yang mendatangkan harapan surgawi. Kita juga dikasih tahu keadaan fisik dan suasana psikis beliau disekitar kegiatan ibadah, semuanya menunjukkan rasa cinta dan kedekatan yang kuat terhadap Allah.

Tidak ada seorang tokoh sufipun yang sanggup menandingi pencapaian maqom seperti yang dijalani nabi Muhammad..

Namun semua itu tidak membuat beliau menjadi 'orang aneh', mengeluarkan omongan yang sulit dimengerti, bicara ke kiri maksudnya ke kanan, jadi manusia sakti mandraguna semacam mampu berjalan diatas air, kebal dibacok ataupun menunda kematian seseorang. Semua mukjizat yang ada pada beliau tidak lebih merupakan kehendak dan ijin Allah untuk situasi khusus, sekarang bermukjizat, besok tidak lagi sekalipun mungkin nabi menginginkannya, sekarang tidak mempan ditebas pedang, besok bisa terluka juga dalam peperangan. Bahkan Nabi tidak mampu memberi hidayah kepada pamannya sekalipun beliau menginginkan dan sudah berdoa kepada Allah.

Apalagi soal cara hidup, tingkat kemakrifatan nabi Muhammad tidak membuat dirinya wara-wiri memakai pakaian seadanya, berbulan-bulan tidak mandi, mengasingkan diri dari masyarakat. Beliau tetap saja menjadi bagian dari komunitas yang saling berinteraksi, berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai tingkat intelektual lawan bicara, singkatnya, sama saja dengan layaknya semua manusia.

Tarekat apa yang dijalani Rasulullah sehingga beliau disebut sebagai manusia paripurna..? Waktu itu belum ada kelompok tarekat apapun, belum muncul rumusan amalan-amalan tertentu yang mesti dijalani dalam mencapai setiap maqom yang ada, bahkan belum ada mursyid yang dijadikan pembimbing. Melalui kesaksian para sahabat yang dimuat dalam hadits, Nabi hanya mengamalkan ibadah sebagaimana yang sudah kita ketahui, shalat fardhu ke masjid, tahajud, puasa Senin-Kamis, bersedekah, shalat sunnah, berdzikir dengan bacaan-bacaan yang sudah kita ketahui pula secara jelas. Semua kegiatan Rasulullah sehari-hari kita terima dengan judul 'sunnah Rasul', itulah amalan-amalan yang beliau jalani, suatu rangkaian perbuatan yang aman, gampang dilaksanakan oleh siapapun, tidak beresiko bisa menjadi sinting karena 'kebanyakan amalan', tidak pakai guru pembimbing seperti adanya mursyid, dll.

Semua amalan Nabi memang berasal dari petunjuk Allah untuk diikuti umatnya, ada petunjuk yang jelas bagaimana caranya, kapan dikerjakan, berapa jumlahnya, apa yang dibaca, dimana dikerjakan. Semua aturan syariat fisik diyakini akan berpengaruh kepada kondisi kejiwaan kita sehingga ketika dijalankan secara benar dan terus-menerus akan membawa kita kearah maqom yang dicapai oleh Rasulullah tersebut, tanpa resiko. Sebaliknya ketika kita mengamalkan apa yang dicontohkan Rasulullah dengan sikap 'ala kadarnya' amalan ini membuat qalbu kita menjadi kering, terisi kecintaan yang minim terhadap Allah.

Itulah 'tarekat Rasulullah',  jalan tasawuf yang aman dan tidak beresiko menjadi sinting, tidak memerlukan mursyid yang khusus sebagai pembimbing, cukup bertanya kepada ustadz yang lagi ceramah di masjid tentang dalil-dalil ibadah dan muamalah yang dicontohkan nabi Muhammad, tidak perlu ikut kelompok tarekat tertentu, namun bisa membuat anda mencapai maqom makrifat tertinggi..

Allah mengingatkan kita tentang jalan agar kita bisa menumbuhkan cinta kepada-Nya, dan sebagai balasan Dia juga akan mencurahkan cinta-Nya kepada kita :

QS 3:31 Katakanlah (hai Muhammad) : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


0 komentar: