Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Salah satu film favorite saya berjudul August Rush, bercerita tentang seorang anak ajaib yang punya kepekaan luar biasa terhadap bunyi. Bagi telinganya, desiran angin, ketukan, benturan benda, suara orang di keramaian, terdengar sebagai irama yang indah. Berdasarkan kepekaan tersebut si anak mampu memainkan alat musik menirukan bunyi-bunyi secara naluriah.

Pada posisi yang berseberangan, saya banyak menemukan orang-orang di sekeliling yang buta nada, tidak bisa membedakan nada do dan sol. Buat telinganya tidak ada bedanya lagu Ayu Tingting 'Alamat Palsu' dengan Beethoven Symphony ke-7, sama saja terdengar dikupingnya.

Anda mungkin sering bertemu anak-anak yang sensitif terhadap angka-angka, sangat cepat mengurai perhitungan matematis diluar kepala. Mungkin dalam pikirannya tersebut susunan angka dan bilangan bergerak aktif, membentuk harmoni yang indah, menarik untuk diolah dan dicari hubungan-hubungan logisnya. Pada sisi lain kira menemukan hal yang sebaliknya, orang-orang yang buta angka, mendadak bolot ketika berhadapan dengan rumus dan hitungan.

Ibu saya pernah bercerita ketika dia sekolah dulu, waktu pelajaran menggambar. Pak guru menyuruh murid-murid keluar kelas melihat kearah bukit, lalu memerintahkan mereka untuk menggambarkannya. Ibu berkisah setelah setengah jam tidak satupun goresan pinsil dan warna tertoreh diatas kertas gambar. Baginya sulit untuk menangkap dan mengimajinasikan lingkungan yang terpampang didepan mata untuk dipindahkan diatas selembar kertas.

Saya punya anak autis, sangat peka dengan warna. Pernah beberapa tahun lalu dia saya bawa belajar kepada salah seorang pelukis ternama yang tinggal di Warung Buncit Jakarta, alhasil si pelukis malah kebingungan sendiri mau mengajarkan apa, karena komposisi warna yang ditempatkan secara naluriah sudah sangat tepat, tidak ada lagi celah untuk dikoreksi.

Setiap manusia dianugerahi Allah keajaiban ditengah kekurangannya. Maka tugas kita adalah menemukan kemampuan istimewa tersebut lalu dikembangkan secara optimal. Jangan pernah punya ambisi harus bisa sama seperti yang lain, memaksa diri atau anak-anak kita tenggelam dalam dunia yang bukan menjadi tempatnya.


0 komentar: