Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Ini sering menjadi topik hangat dalam forum lintas agama. Tuduhan pihak kafir menyatakan bahwa Islam mengajarkan seorang Muslim boleh melakukan hubungan seksual dengan budak miliknya tanpa harus menikahinya, lalu mereka menertawakan ajaran ini seolah-olah perbuatan tersebut tidak berlaku di dunia kafir pada jaman itu. Budak wanita yang dimiliki seorang kafir bisa diperlakukan semaunya, mau dijadikan pemuas nafsu, dijadikan pelacur, dll. Itu yang berlaku secara umum dijaman tersebut.

Namun Islam datang untuk membereskan masalah ini..

Prinsip dasarnya baik bagi wanita merdeka maupun budak, harus dinikahi secara resmi dan diberi mas kawinnya. Dalam Islam yang namanya pernikahan ada ijab kabul, yaitu pihak laki-laki meminta kepada keluarga perempuan untuk menyerahkan anak mereka, artinya tanggung-jawab yang sebelumnya ada pada keluarga wanita beralih kepada suaminya.

Ketika seorang muslim mau menikahi budak milik orang lain, maka harus minta ijin kepada tuannya, karena sebagai budak posisi tuannya tersebut menggantikan keluarga, budak adalah hak milik dia sepenuhnya.

Dan barang siapa di antara kamu tidak mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang beriman, maka (dihalalkan menikahi perempuan) yang beriman dari hamba sahaya yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu. Sebagian dari kamu adalah dari sebagian yang lain (sama-sama keturunan Adam-Hawa), karena itu NIKAHILAH mereka dengan izin tuannya dan BERILAH MEREKA MAS KAWIN yang pantas, karena mereka adalah perempuan-perempuan yang memelihara diri, bukan pezina, dan bukan (pula) perempuan yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya. (An-Nisaa 25)

Masalah yang diributkan itu terjadi kalau seorang tuan mau menikahi budak miliknya sendiri. Budak tersebut tidak lagi berada dibawah tanggung-jawab keluarganya melainkan sepenuhnya dikuasai oleh sipemiliknya tersebut. lalu bagaimana ijab kabulnya..? makanya proses pernikahan antara si pemilik budak dengan budaknya sendiri tidak perlu ijab kabul. Lalu ini yang dituduh ajaran Islam membolehkan seorang Muslim menggauli budaknya tanpa menikahinya.

Selanjutnya seorang budak yang sudah digauli lalu memiliki anak, maka tidak boleh dijual kembali kepada pihak lain, tidak boleh menjadikan budak tersebut seperti pelacur, dan dia disebut ummu walad. Ketika tuannya meninggal si budak otomatis menjadi orang merdeka.

Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Barang siapa memaksa mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa.” (QS. An-Nur: Ayat 33)


0 komentar: