Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Pada mulanya ada Friedrich Hegel, seorang filsuf Jerman yang berbicara tentang dialektika, bahwa sejarah perkembangan peradaban terbentuk melalui proses dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, ada thesa, ide yang muncul, lalu setiap thesa cenderung memunculkan antithesa yang bersifat penentangan terhadap thesa karena dalam setiap rumusan ide selalu memiliki aspek positif dan negatif, kekuatan dan kelemahan, baik dan buruk. Lalu proses selanjutnya menghasilkan sinthesa, munculnya rumusan baru yang mengambil unsur-unsur positif dari kedua hal yang bertentangan tersebut, membuang aspek negatifnya. Pada masa selanjutnya sinthesa berubah kembali menjadi thesa yang akan memunculkan lagi antithesa, yang akhir berubah kembali menjadi awal proses. Demikianlah kebenaran menemukan dirinya, selalu berdialektika membuang aspek keburukan dan makin lama bergerak menuju kebenaran sempurna.

Namun Hegel berpendapat bahwa dunia nyata merupakan manifestasi dari ide, bahwa yang absolut adalah roh (Hegel memang mendasari filsafatnya berdasarkan ajaran Kristen) yang menyelimuti materi dan semua pengalaman manusia, peradaban sebagai hasil dari akal pikiran dan tindakan manusia adalah fase dari manifestasi roh Tuhan dalam dunia materi, kebenaran Tuhan yang absolut dan berkembang lalu menjadi sadar akan dirinya sendiri. Makanya dialektika Hegel berlangsung dalam dunia ide, berproses dalam pikiran manusia.

Filsafat ini dijuluki Idealisme Dialektika.

Beberapa tahun kemudian muncul Karl Marx, mengadopsi proses dialektika ini namun berpikir secara terbalik. Bukan dunia ide yang dimanifestasikan dalam materi, tapi justru semua yang nyata membentuk ide dalam pikiran manusia. Perkembangan peradaban dikatakan merupakan proses ekonomi, urusan mengisi perut, dan pertarungan antara thesa dan antithesa berbentuk pertentangan kelas dalam masyarakat. Marx menyatakan manusia dapat berpikir karena mereka itu hidup, dan hidup adalah masalah perut, kenyataan dan materilah yang memunculkan ide sehingga Marx memandang sejarah manusia adalah proses pergolakan mereka memenuhi kebutuhan materi.

Pada awalnya manusia hidup dalam sistem komunisme primitif, tanpa kelas. Lalu karena jumlahnya berkembang terjadi antithesa rebutan untuk memguasai sumber daya alam dan menghasilkan sinthesa masyarakat perbudakan. Sinthesa berubah menjadi thesa kembali memunculkan antithesa penguasaan tanah sehingga muncul masyarakat feodal. Selanjutnya feodalisme melahirkan kaum yang menguasai alat produksi akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, melahirkan masyarakat kapitalis borjuis. Marx hidup dimasa ini dan dia melihat kaum pemilik modal dan penguasa alat produksi punya posisi kuat berhadapan dengan para buruh proletar yang tertindas, maka dia meramalkan proses dialektika akan berkembang memunculkan kembali masyarakat komunis modern, kapitalisme lambat laun akan membusuk karena dalam dirinya mengandung unsur negatif yang berfungsi sebagai antithesa. Thesa bertarung dengan antithesa dan melahirkan sinthesa baru.

Karena diaplikasikan di dunia materi maka pemikiran Karl Marx ini dijuluki : Materialisme Dialektika.

Saat ini kita juga menemukan proses dialektika ketika berbicara urusan politik di dunia maya. Kenyataan yang terjadi seperti kekuasaan politik, kebijakan politik, direkam oleh para netizens sebagai bagian kampanye untuk menginformasikan prestasi pemerintah. Setiap kebijakan memiliki aspek positif dan negatif. Karena ada bagian masyarakat yang selalu menyodorkan aspek positifnya saja dan menyembunyikan hal negatifnya maka bagian masyarakat lain mengambil posisi menyampaikan aspek negatifnya dan tidak perlu lagi bicara soal positifnya. Thesa memunculkan antithesa. Yang membicarakan bagian negatif disebut haters, maka yang melulu menina-bobokkan orang dengan hal positif disebut penjilat.

Karena sistem politik membolehkan jabatan presiden bisa 2 kali berturut-turut maka proses dialektika ini akan bertarung untuk menentukan apakah penguasanya akan bisa berlangsung 2 periode, atau akan memunculkan sinthesa baru, cukup sampai disini saja, ganti dengan yang lain yang memuat unsur-unsur positif dari kedua belah pihak yang bertarung, membuang aspek negatifnya..:-D

Proses ini terjadi di media sosial, maka kelihatannya layak dikasih judul : Filsafat Medsosisme Dialektika. :-)


0 komentar: