Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Manusia dianugerahi Allah kemampuan beradaptasi yang luar biasa dari sisi fisik, psikis dan sosialnya. Mereka sanggup hidup di benua es kutub utara seperti orang-orang Eskimo dan sebaliknya juga sanggup berada ditenda-tenda nomaden digurun pasir luas yang panas. Bisa nyaman menjalani kehidupan dihutan lebat Amazon dan sebaliknya juga mampu beradaptasi dengan lingkungan hutan beton di kota-kota besar. Manusia bisa hidup diatas perahu seumur-umur dan sebaliknya juga bermukim digunung-gunung batu yang tidak ada tanaman sama sekali.

Kita sudah sering melihat adanya kelompok masyarakat yang tetap berdiam di wilayah yang sering kebanjiran dibantaran kali, atau juga dilereng-lereng gunung yang seringkali meletus. Ketika bencana datang mereka mengungsi lalu kembali lagi untuk meneruskan hidup sebagaimana biasa. Kita bahkan tidak habis pikir bagaimana sekelompok manusia bisa nyaman menjalani hidup ditengah-tengah sampah yang menggunung di Bantar Gebang

Penguasa sering terjebak, ketika mereka membuat kebijakan untuk menata kehidupan manusia, kacamata yang dipakai adalah diri mereka sendiri, bahwa dalam anggapannya orang hidup di bantaran kali ataupun pemukiman kumuh pasti menderita, rentan terhadap penyakit, setiap waktu dalam bahaya kebanjiran, harus mengungsi. Atau juga ketika memandang pemukiman kumuh dengan rumah yang bertumpuk-tumpuk tidak jelas mana yang ruang tamu dan mana bagian dapurnya, lalu muncul persepsi akan memunculkan konflik sosial, moralitas, perkelahian antar genk, kriminalitas, dll. Padahal masyarakat yang menjalaninya mampu menerima semua itu dengan menjadikan segala persoalan menjadi bagian dari kehidupan mereka. Manusianya beradaptasi dengan persoalan sehari-hari mereka.

Ibarat orang lain yang naik gunung, malah kita yang sesak nafas.

Penguasa yang gegabah dan hanya mampu melihat persoalan masyarakat dari kacamatanya sendiri, akan memaksa rakyat untuk merubah kehidupan secara total. Penduduk pemukiman kumuh dipindahkan ke flat/apartment yang sudah disediakan, Memang terkesan rapi dan enak ketika disorot oleh kamera televisi, namun disitu ada kehidupan yang hilang. Mungkin mereka memang tidak lagi kebanjiran dan mengungsi, namun harga yang harus dibayar oleh tempat tinggal yang baru tidak bisa menggantikan suasana bathin yang lama. Soal bencana..? mereka sudah terbiasa menjalaninya sehingga sering kita menerima ucapan ;"kalau kebanjiran yaa mengungsi, nanti kalau sudah surut balik lagi..".

Kelihatannya pendekatan yang dipakai oleh penguasa, siapapun orangnya, haruslah dirubah. Baik menurut kita belum tentu baik menurut rakyat. Membasmi tikus tidak dengan cara membakar lumbung, memisahkan aspek negatif dari kehidupan rakyat tidak harus dengan cara memusnahkan kehidupan itu sendiri lalu menggantinya dengan yang lain.


0 komentar: