Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Pernahkan anda memperhatikan seorang olahragawan yang terampil bergerak di arena..? Katakanlah pemain sepakbola sekaliber Ronaldo atau Messi melakukan tendang dalam situasi sulit atau terjepit, dari sudut sempit masih bisa membobol gawang lawan, dilakukan seolah-olah 'tanpa mikir', dilakukan begitu saja dalam hitungan sepersekian detik. Begitu melihat kiper lawan membuka peluang, tendangan langsung diarahkan.

Pernahkan anda menyaksikan ketrampilan seorang petinju, karateka, judoka, dalam melakukan pertarungan diatas ring atau area kumite, bagaimana mereka menghindar, berkelit, melontarkan hook, uppercut, seiken chudan tsuki, tendangan maigeri, kuncian dan bantingan, dalam hitungan sepersekian detik. Begitu melihat pertahanan lawan yang terbuka, serangan seolah-olah secara otomatis 'tanpa mikir' dilontarkan. Gerakan kepala dan kaki dalam menghindari pukulan yang sangat cepat terasa sebagai naluri, bukan lagi sesuatu yang direncanakan.

Kalau kita dalami mengapa para olahragawan tersebut memiliki naluri seperti itu maka kita akan menemukan bahwa mereka memang telah melatihnya ribuan kali, mengulang-ulang gerakan yang sama. Bagi pemain bola semisal Ronaldo dan Messi, melakukan 'tendangan secara naluriah' tersebut merupakan hasil kerja keras mereka dalam latihan bertahun-tahun. Para petinju dan penggiat bela diri melatih pukulan dan gerakan badan berulang-ulang sehingga diatas arena mereka tidak lagi berpikir sebelum tinju dilayangkan atau tendang dilakukan, semuanya berjalan secara naluriah tergantung situasi yang dihadapi.

Kegiatan fisik membentuk naluri, jasmani membentuk ruhani...

Demikianlah hubungan ibadah fisik terhadap isi bathin seorang Muslim. Allah memerintahkan kita melakukan ibadah dengan gerakan dan bacaan tertentu berulang-ulang, bahkan Rasulullah mengatakan beliau beristighfar seratus kali dalam sehari, belum lagi melakukan ibadah shalat, puasa, dll.

Dalam Islam tidak ada pemisahan aspek jasmani dan ruhani dalam beribadah. Perintah untuk beribadah dengan gerakan tertentu dan berulang-ulang kalau dilakukan secara istiqomah akan membentuk 'naluri beribadah', itulah yang disebut dengan hakekat atau makrifat dalam dunia tasawuf. Syariat Islam tidak hanya mengatur soal fisik saja. Bukankah Al-Quran mengatakan shalat itu sangat berat kecuali bagi mereka yang khusyu', atau juga syariat yang menyatakan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong, atau juga aturan yang menyebutkan janganlah beribadah dengan riya. Khusyu', sabar dan riya bukanlah syariat yang berkaitan dengan fisik, tapi sebagai panduan olah ruhani. Maka syariat Islam tidak memisahkan urusan jasmani dengan ruhani, keduanya merupakan kesatuan yang saling berpengaruh.

Jadi bagaimana caranya agar bathin kita bisa terisi dengan cahaya ilahiah..? Lakukan saja ibadah sesuai yang dicontohkan Rasulullah, dan tentu saja : istiqomah. Allah mengatakan bahwa Dia sangat menyukai ibadah yang dilakukan terus-menerus dengan konsisten, walaupun kecil.


0 komentar: