Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

"Aku percaya Amerika karena negeri ini telah membuatku makmur, dan kubesarkan anak gadisku dengan gaya Amerika. Kuberikan dia kebebasan,tapi kuajarkan dia untuk tidak pernah mempermalukan keluarga. Anak gadisku memiliki pacar, bukan orang Italia, berkencan pergi ke bioskop bersama pacarnya sampai pulang larut. Aku tidak protes.

Dua bulan lalu, pacarnya mengajak berpesta bersama teman lainnya. Mereka menyuruhnya minum wiski sampai mabuk, dan kemudian mereka mencoba memperkosanya. Dia melawan, anak gadisku berusaha menjaga kehormatannya. Akibatnya mereka memukulinya seperti hewan.

Ketika kulihat dia di rumah sakit, hidungnya patah, rahangnya retak dan harus diikat dengan kawat. Dia bahkan tak bisa meringis jika kesakitan. Aku menangis..., Mengapa..? Dia adalah cahaya hidupku, sebelumnya adalah remaja yang cantik. Dia takkan pernah cantik lagi.

Sebagai orang Amerika yang baik, aku lalu melapor ke polisi, dan mereka disidangkan. Hakim memvonis mereka tiga tahun penjara,tapi hukuman ditangguhkan karena mereka membayar uang jaminan. Mereka bebas hari itu juga.

Aku berdiri di ruang sidang seperti orang tolol dan kedua bangsat itu, mereka tersenyum padaku. Jadi aku bilang pada istriku,"Untuk keadilan..kita harus menghadap Don Corleone."

(Cuplikan film The Godfather - 1972)

Keadilan adalah kebutuhan dasar umat manusia, sama halnya bagaimana fisik kita membutuhkan makanan dan udara untuk hidup. Makanya Allah menempatkan rasa keadilan tersebut dalam naluri, dan ketika dia terganggu, manusia akan mencari kemanapun dan kepada siapapun yang bisa diharapkan untuk mendapatkannya. Kisah dalam film tersebut menggambarkan Don Vito Corleone, seorang boss mafia Amerika-lah yang dijadikan sandaran terakhir ketika kekuasaan buntu, dan kalau anda pernah menonton filmnya, sang Godfather lalu mengutus begundalnya untuk menghukum, sesuai dengan cara dia.

Disaat tidak ada lagi makhluk yang bisa diharapkan bisa memberikan keadilan yang didambakan, kita dengan segala kepasrahan menengadah ke langit, mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berdoa dengan penuh pengharapan. Allah, Tuhan yang Maha Kuasa, yang bisa berbuat sekehendak-Nya, bahkan 'mewajibkan' bagi diri-Nya sendiri untuk tidak berlaku zhalim, sebagai suatu bentuk antonim dari kata keadilan.

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman : Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) di antara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim.(Hadits Muslim)

Biasanya rasa keadilan dirumuskan manusia melalui aturan hukum, namun sering hukum berjalan tidak seiring dengan rasa keadilan sekalipun tidak ada yang dilanggar. Menangkap seorang ustadz yang baru saja dilepaskan oleh pengadilan sudah sesuai aturan hukum, karena syaratnya terpenuhi, ada pelapor, ada bukti awal, ada wewenang yang diberikan oleh hukum kepada aparat. Rasa keadilan lalu berbicara mengapa ini tidak berlaku untuk semua pihak yang melakukan perbuatan yang sama..? Ada yang ditangkap berbulan-bulan dengan tuduhan makar, ini juga sesuai dengan aturan hukum karena wewenangnya memang diberikan, namun kemudian dilepas tanpa proses lebih lanjut, tidak jelas apakah yang bersangkutan memang bersalah atau tidak. Si penulis kata-kata 'laa illaha illa Allah' di bendera langsung ditangkap, ini juga sesuai aturan, tapi ketika bendera ditulis dengan nama Metallica tidak ada proses lebih lanjut.

Maka keadilan mungkin memang tidak bisa dirumuskan, dia bersemayam dalam qalbu lalu menjadi naluri yang dimiliki umat manusia. Karena qalbu adalah 'komponen ilahiah' yang dititipkan dalam diri manusia, maka keadilan hanya bisa dirasakan melalui bimbingan-Nya, semata-mata dengan bimbingan-Nya. Rasa keadilan tidak bisa ditentukan oleh manusia, karena manusia adalah makhluk yang sangat gampang menyatakan yang benar adalah salah dan yang salah adalah benar.

Ketika keadilan berbicara bahwa tempat kopiah di kepala dan sepatu dikaki, lalu ada yang melakukan sebaliknya, memakai kopiah di kaki dan sepatu ditarok di kepala dengan alasan harga sepatu jauh lebih mahal dari harga kopiah, dan dia menganggap itu bukanlah kedzaliman, lalu kita mau bilang apa..?


0 komentar: