Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Minggu kemaren saya menghadiri acara riungan keluarga besar istri di Blitar, berangkat dari Surabaya ba'da Shubuh. Saya baru tahu ternyata keluar dari Surabaya sudah tersedia jalan tol, masuk dari Krian dan tembus sampai Kertosono. Selanjutnya tinggal meneruskan kendaraan ke arah Kediri dan Blitar. Terus-terang, nyaman.., cuma butuh setengah jam untuk sampai ke Kertosono yang kalau ditempuh lewat jalur biasa bisa sampai 1 - 2 jam. Menurut informasi dari saudara saya, jalan tol tersebut akan segera menyambungkan Surabaya - Salatiga, ditargetkan selesai akhir 2018. Luar biasa..

Namun kalau dulu saya dan istri pulang kampung ke Kediri lewat jalan biasa bisa gratis, maka sekarang terpaksa keluar uang ekstra 60-70 ribu sekali jalan. Diperkirakan kalau saya nanti mudik ke Bandung lewat jalur selatan, bisa habis duit tambahan 400 - 500 ribu. Kenyamanan memang ada harganya..

Pembangunan jalan tol juga punya tujuan produktif, semua orang tahu itu. Diharapkan dengan adanya sarana ini, daerah yang dilaluinya bisa dikembangkan, khususnya untuk industri dan property. Pabrik-pabrik dibangun, perumahan berkembang. Para juragan pemilik modal tinggal sumbang duit untuk membangun gerbang tol agar daerah yang sudah mereka kuasai bisa diakses dengan mudah. Perkembangan ekonomi akan menyerap tenaga kerja dan pemasukan pusat maupun daerah dari pajak. Semua pihak happy...

Namun ada yang tersingkir, para pedagang kecil, warung makan, penjual oleh-oleh, pedagang buah dipinggir jalan lintas yang selama ini ramai kehilangan pembeli. Biasanya saya mampir di Warung Pojok, rumah makan di Kertosono setiap lewat, sekarang untuk bisa makan disana harus keluar tol dulu. Pedagang telor asin Brebes terpaksa pasang plang nama besar dipinggir jalan tol, membujuk pengendara untuk keluar sejenak mampir ditokonya.

Tentu saja ada usaha untuk mendekati pelanggan yang hilang dengan membuka gerai di rest area, namun sepetak toko harus bayar ke pemilik daerah tersebut yang sudah mendapat kapling dari pemilik jalan tol, maka berkembanglah kapitalisme, karena para pelaku usaha menengah ke bawah ini tidak bisa membuka akses sekalipun misalnya punya sebidang tanah persis disisi jalan tol.

Jalan tol memang sangat erat hubungannya dengan kaum kapitalis, para pemilik modal besar sangat terbantu menumpuk harta dan kejayaan. Kaum pedagang kecil, usahawan mandiri lambat laun akan terseret dan terpaksa harus 'mencantelkan diri' kepada pengusaha besar yang menguasai tanah dan sumber daya, agar bisa kebagian kue. Kemajuan ekonomi yang didambakan dari pembangunan jalan tol adalah ekonomi kapitalis, sudah pasti itu.

Lalu apakah program pemerintah untuk memacu pengembangan infrastruktur tol ini salah..? Tentu saja tidak, karena sarana untuk mereka yang ingin mengembangkan bisnis skala besar juga perlu disiapkan. Yang perlu dipikirkan adalah keseimbangan, bahwa sumber dana yang ada tidak hanya difokuskan untuk membangun sarana penopang kaum kapitalis saja, tapi juga untuk membangun jalan-jalan bebas bayar. Pengembangan sarana yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh rakyat biasa, mereka bisa membuka warung di kiri kanan jalan.

Dan ketika suatu waktu nanti saya pulang kampung, saya bisa memilih mau menelusuri jalan tol dengan waktu tempuh cepat tapi dengan membayar ratusan ribu, atau cukup mengikuti jalan biasa yang cukup nyaman, bisa mampir-mampir di warung rakyat. Memang lebih lambat tapi gratis.


0 komentar: