Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Dalam dunia tafsir Islam, mencoba memahami ayat-ayat Al-Qur'an dengan melengkapinya berdasarkan sumber-sumber yang ada dalam khazanah Yahudi sudah terjadi sejak jaman para sahabat. Dunia Islam mengistilahkan ini dengan sebutan 'sumber israiliyat', yaitu topik Al-Qur'an yang kebetulan terdapat juga dalam sumber Yahudi, lalu karena Al-Qur'an tidak menyampaikannya secara detail dan nabi Muhammad tidak memberikan tafsirnya, para sahabat yang tergolong kaum intelektual karena melek sejarah Yahudi lalu melengkapinya dengan tafsir dari catatan kaum tersebut, baik mengambil dari kitab suci, kitab apokripa, catatan klasik para rabbi, dll.

Para ulama berbeda pendapat soal boleh atau tidaknya memakai sumber dari literatur Yahudi ini, satu pendapat mengatakan melarang memakai sumber israiliyat karena banyak mengandung 'jebakan', bercampur antara yang haq dan yang bathil, memuat pemahaman subjektif sebagian Yahudi yang menentang para nabi mereka, sedangkan ulama lain menyatakan boleh mengambil dan melengkapi tafsir dengan sumber tersebut sepanjang tidak terkait soal aqidah, misalnya bisa dipakai untuk fakta sejarah dan kisah-kisah kaum terdahulu. Makanya Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya memakai beberapa ayat alkitab Perjanjian Lama untuk menjelaskan ayat Al-Qur'an soal berapa umur Ibrahim ketika istrinya melahirkan anak. Berapapun usia Ibrahim yang dikutip dari PL tidak ada pengaruhnya dengan aqidah umat Islam sepanjang data tersebut mencatat usia yang sudah tua.

Namun pada saat lain, kandungan sumber israiliyat yang dianggap tidak bersinggungan dengan urusan aqidah bisa juga memiliki 'konsekuensi teologis' dalam ajaran Islam. Ibnu Abbas (melalui tafsir yang saya baca dalam bahasa Indonesia) mengatakan bahwa alasan Ibrahim 'membuang' Siti Hajar dan Ismail ke padang gurun gersang karena didesak oleh istri pertamanya, Siti Sarah yang cemburu. Ini jelas diambil dari narasi alkitab. Namun Al-Qur'an dan umat Islam memahami Ibrahim bukanlah sosok nabi yang termasuk anggota 'ISTI - Ikatan Suami Takut Istri', dia adalah hamba Allah yang taat. Islam memahami bahwa keputusannya untuk menempatkan istri dan anaknya tersebut semata-mata mentaati perintah Allah, sedangkan alkitab Perjanjian Lama menceritakan kembali kisah tersebut seperti kisah sinetron melayu. Secara langsung kutipan kisah israiliyat ini semata-mata soal data sejarah, namun punya dampak terhadap penghormatan umat Islam kepada para nabi.

Contoh lain adalah soal siapa anak Ibrahim yang akan dikorbankan. Sebenarnya dari sudut pandang Islam siapapun anak tersebut, apakah Ismail ataupun Ishaq tidak ada masalah. Kisah ini merupakan pelajaran tentang keimanan Ibrahim dan anaknya terhadap perintah Allah, dan umat Islam menghormati kedua anak Ibrahim tersebut. Al-Quran juga tidak mencantumkan nama jelas anak yang dikorbankan, lalu sebagian ulama tafsir meneliti dari beberapa ayat Al-Quran dan menyimpulkan bahwa anak tersebut adalah Ismail. Sebagian sahabat mencoba mencari rujukan dari PL dan karena yang dicatat disana adalah nama Ishaq, lalu mereka berpendapat Ishaq-lah anak yang dikorbankan. Namun penulisan nama Ishaq dalam kitab Yahudi memiliki tujuan teologis yang bertentangan dengan Islam. Ishaq disebutkan namanya terkait adanya usaha Yahudi untuk menyingkirkan Ismail sebagai anak keturunan Ibrahim. Dengan memakai sumber israiliyat untuk menafsirkan siapa anak Ibrahim otomatis membawa pemahaman Yahudi tersebut, ada implikasi teologisnya.

Sumber Yahudi seperti Tanakh, Talmud, catatan rabbanik, termasuk Injil Perjanjian Baru merupakan dokumen sejarah hasil 'ijtihad' para penulisnya yang membahas soal ajaran Musa dan Isa Almasih. Islam memahami bahwa semua sumber tersebut bukanlah Taurat dan Injil yang dimaksud oleh Al-Qur'an. Sebagai ilustrasi, Tanakh, Taurat dalam PL, bisa disejajarkan dengan kitab tafsir Ibnu Katsir atau Jalalain, yang isinya membahas ayat-ayat Al-Qur'an namun terdapat bagian yang berasal dari hasil pemikiran si penulisnya, baik tafsir yang diambil dari hadits maupun memang hasil pemikiran Ibnu Katsir, dll. Bedanya mungkin kalau kitab tafsir Islam tersebut memuat ayat-ayat Al-Qur'an yang memang diakui sebagai firman Allah lalu itulah yang dijelaskan oleh tafsir, sedangkan kitab suci Yahudi tidak bisa lagi dipastikan mana yang merupakan bagian dari isi Taurat dan Injil yang diturunkan kepada Musa dan Isa Almasih, antara tafsir dengan ayat kitab suci bercampur-baur. Kitab catatan rabbanik mungkin bisa disetarakan dengan kitab-kitab karangan Al-Ghazali seperti Ihya Ulumuddi bagi kaum Muslim, isinya memang membahas ajaran Allah yang bersumber dari Al-Qur'an, namun tetap saja merupakan hasil ijtihad para ulama, tidak bebas dari kekeliruan.

Umat Islam tidak memperlakukan kitab tafsir dan buku karangan ulama sebagaimana mereka memperlakukan Al-Qur'an. Ibnu katsir tidak diterima secara total karena ada penafsirannya yang dikritik orang. Karangan Al-Ghazali tetap ada yang membantah, semuanya toh merupakan hasil pemikiran manusia yang bisa saja salah.

Dari kalangan Islam, terdapat sekelompok orang yang terlihat membuka diri memakai sumber-sumber israiliyat ini. Sikap ini bisa menjadi pisau bermata dua. satunya bisa ditujukan untuk berdiskusi dengan pihak Kristen, mengkoreksi ajaran mereka dari sudut pandang Yahudi, dan dari sisi lain bisa dipakai untuk 'menyelaraskan' ayat-ayat Al-Qur'an sesuai apa yang tercatat dalam khazanah Yahudi padahal memuat kandungan yang tidak sejalan dengan konsep Islam, sebagaimana contoh tentang kisah nabi Ibrahim diatas.

Menurut saya tidak perlu ada pengharaman untuk memakai kisah-kisah israiliyat untuk mendebat kesalahan ajaran Kristen, karena itu menjadi urusan antara sumber Yahudi dengan Kristen sendiri, sekalipun mungkin pihak yang mengangkat persoalannya datang dari kalangan Islam. Memakai sumber Yahudi untuk mengkoreksi ajaran Kristen tidak berarti Islam mengakui kebenaran kisah-kisah israiliyat. Namun kalau ini dipakai untuk mencocokan tafsir Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah, maka haruslah berhati-hati.

Persoalan sumber-sumber israliyat merupakan pembahasan klasik yang sudah lama terjadi dikalangan para ulama dan peringatan mereka sudah disampaikan sejak jaman dahulu agar kita tidak tersesat. Bahkan Rasulullah sendiri memberikan petunjuk terkait soal ini :

"Dan janganlah kalian membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka. Katakanlah bahwa kami telah beriman kepada Allah dan segala yang Ia turunkan kepada kami".

Petunjuk nabi Muhammad bisa juga dipahami :"Kalau anda masih berminat juga meneliti dan memakai sumber-sumber israiliyat untuk menjelaskan ayat Al-Quran, jangan terima semua yang dimuat dalam khazanah mereka sebagai kebenaran. Sumber-sumber Yahudi tersebut memuat percampuran antara yang haq dan yang bathil, maka pakailah ayat-ayat Al-Qur'an untuk menjadi alat untuk menilai kebenarannya. kalaupun anda tidak menggubris kitab-kitab yahudi tersebut, cukup hanya berpatokan kepada sumber-sumber dari Islam sendiri, tidak juga akan mengurangi dan melemahkan nilai anda sebagai seorang Muslim".


0 komentar: