Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Media sosial merupakan hal yang baru dalam peradaban manusia karena kemajuan teknologi saat ini mampu membuat lalu lintas informasi menjadi sangat mudah diakses, ibarat iklan terkenal sebuah minuman dijaman dulu : "dimana saja, kapan saja". Media sosial berfungsi sebagai 'buku harian yang diumbar', diary yang dulunya disimpan dilaci meja atau dibawah bantal, dijadikan tempat curahan isi hati setiap waktu, sarana penyaluran beban pikiran dan uneg-uneg, dulu merupakan buku yang bersifat pribadi, saat ini semuanya dibuka kepada orang lain. Karena dasarnya adalah diary, tentu saja isinya kebanyakan subjektif, memuat pikiran kita terkait fakta lingkungan yang dihadapi, bisa berurusan dengan cinta, politik, agama, musibah, kelakuan orang, dan seterusnya.

Karakter keterbukaan medsos ini kemudian banyak menimbulkan masalah karena bisa jadi pandangan dan pikiran kita bersinggungan dengan pihak lain. Penilaian terhadap fakta yang sama bisa saja menghasilkan kesimpulan yang berbeda bahkan berlawanan. Fakta misalnya tentang pak Jokowi yang giat membangun infrastruktur bisa dinilai sebagai suatu kebaikan bagi satu pihak, bisa juga dianggap penindasan bagi pihak lain. Fakta yang diterima sama, namun penilaian berbeda. Seseorang bisa saja menyatakan Setnov pejabat yang licin bagai belut, sedangkan pihak lain memuji-muji beliau dan menulis puluhan status tentang kebaikan dan kejujurannya, semuanya berdasarkan fakta yang sama tentang kejadian disekitarnya, mulai dari penetapan tersangka oleh KPK, sidang pra-peradilan, dan dibebaskan oleh hakim.

Demikian juga dengan soal agama. Anda bisa saja menuliskan pikiran anda bahwa semua agama selain yang anda ikuti adalah sesat, pengikutnya akan masuk neraka. Apakah penilaian ini tidak boleh dimuat dalam media sosial..?, ajaran agama justru memerintahkan pemeluknya untuk menyampaikan hal ini kepada pihak lain, artinya tulisan tersebut malah menunjukkan kita sedang menjalankan ajaran agama masing-masing.

Belum lagi kalau tulisan di medsos menyangkut soal selera yang tidak bisa untuk diperdebatkan. Saya tidak suka presiden yang bertubuh kurus, apa anda sebagai penggemar pak Jokowi harus marah..? Yang lain bilang sangat benci dengan pete dan jengkol karena bau, apakah saya sebagai penggemar pete dan jengkol harus tersinggung..? Atau seorang perempuan yang patah hati ditinggal pacar menulis :"Semua laki-laki bajingan..!!", apakah saya akan mengajukan protes sebagai laki-laki..?

Penilaian terhadap suatu fakta tergantung sudut pandang orang yang menilai, sudut pandang dibentuk oleh sistem nilai yang ditanamkan dalam diri. Kita bisa saja mengatakan suatu omongan atau perbuatan seseorang merupakan kedzaliman dan dosa, namun bagi orang lain tidak ada masalah.

Karena hal ini, media sosial sering menjadi penyebab keributan dalam masyarakat, dan kebanyakan berkaitan dengan hal yang subjektif.

Sebenarnya karakter media sosial yang bebas ini memiliki jalan keluar yang alamiah untuk mengatasi masalah ketersinggungan ini. Karena bersifat bebas dan bisa dibikin oleh siapapun maka setiap orang punya hak dan kesempatan yang sama untuk menulis pikirannya di medsos masing-masing. Kita boleh saja berbusa-busa memuji, memuat sampai ratusan status, terhadap seseorang yang di idolakan, sekalipun pada saat yang sama ada ratusan status orang lain menyatakan sebaliknya. Kalaupun dirasa dalam status pihak lain tersebut ada fakta yang keliru, hoax, fitnah, ada fasilitas komentar untuk memberikan fakta sebenarnya.

Kalaupun orang lain tersebut tidak mau dengar dan menolak apa yang kita sampaikan, tinggal di unfriend atau di block saja, dan semua tulisannya akan lenyap dari beranda kita. Gampang sekali sebenarnya, karena dalam medsos tidak ada paksaan. Anda bahkan bisa saja membuang medsos jauh-jauh kalau hal tersebut sudah dinilai mengganggu..

Ada indikasi kesengajaan menyebar fitnah, memproduksi informasi seolah-olah merupakan fakta padahal bertujuan untuk menjatuhkan orang lain..? tinggal lapor ke polisi.

Lalu apa gunanya ngamuk-ngamuk di wall orang, lalu mau memaksakan penilaian mereka harus sama dengan penilaian anda..? bahkan sampai mengajukan gugatan karena anda merasa tersinggung dengan pikiran subjektif pihak lain..?

Anda hanya buang-buang waktu..


0 komentar: