Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Ada diskusi yang menarik pada pengajian ba'da shubuh di masjid saya pagi ini. Seorang jamaah mempersoalkan seringnya pihak-pihak yang menyampaikan tuduhan bid'ah terhadap kegiatan tahlilan yang biasa dipraktekkan oleh sebagian Muslim yang lain. Dia mengajukan argumentasi bahwa sekalipun Rasulullah memang tidak mencontohkan, namun ketika diturunkan dari dalil-dalil lain maka tahlilan bisa dikategorikan sunnah dan bukan perbuatan yang menyalahi ajaran Islam, sehingga harus disebut bid'ah.

Saya tidak tertarik dengan adu dalilnya karena hal ini sudah sering saya dengar, gampang ditemukan di internet, namun mendapat masukan yang berharga bahwa mungkin dimasa yang akan datang kita tidak lagi menggunakan kata bid'ah terhadap suatu ibadah yang tidak memiliki dalil yang kuat. Sebaiknya kata yang diucapkan adalah : apakah acara atau perbuatan tersebut sesuai dengan sunnah Rasulullah atau tidak, apakah ada riwayat yang menyebutkan nabi Muhammad melakukan atau menganjurkannya atau tidak.

Semua orang pasti sepakat tentang hal ini, ketika tidak ada contoh yang diberikan oleh nabi Muhammad maka hal tersebut memang tidak ada, namun mengatakan sebagai bid'ah lebih memunculkan kesan penghakiman, yang dilakukan pihak lain sudah salah atau benar.

Dalam Islam sebenarnya banyak kita temukan hal yang bisa dituduhkan sebagai ritual yang baru, sebagian diterima dengan 'judul' bid'ah hasanah, sebagian lain ditolak karena tidak hasanah ataupun 'setengah' hasanah. Shalat tarawih berjamaah tidak dicontohkan oleh Rasulullah, namun sebagian besar umat menerimanya sebagai bid'ah hasanah sehingga tidak ada keberatan untuk mengerjakannya. Mungkin ada kalangan umat Islam yang sangat keras menerapkan sunnah Rasulullah lalu tidak mau mengikuti shalat tarawih berjamaah. Hasanah bagi yang lain, tidak hasanah bagi dia, namun kedua belah pihak pasti sepakat bahwa ibadah tersebut memang tidak dicontohkan oleh nabi.

Demikian juga dengan sunnah nabi yang lain, larangan makan sambil berdiri, memelihara jenggot, bercelana cingkrang, tidur miring ke kanan. bagi pihak yang sangat keras mengikuti sunnah tersebut mereka akan melakukannya, namun bagi yang lain ada fleksibilitas dengan argumen dan dalil lain yang mendukung kebolehan untuk tidak mengikuti sunnah, namun kedua belah pihak pasti sepakat bahwa Rasulullah memang mencontohkan dan mengajarkannya.

Jadi ketika seseorang mungkin bertanya kepada anda terhadap suatu perbuatan yang selama ini menjadi pertentangan, sampaikan saja point yang bisa menjadi kesepakatan bersama :"Apakah hal tersebut pernah dicontohkan oleh Rasulullah..?", soal penilaian sebagai bid'ah atau bukan, diserahkan kepada masing-masing..


0 komentar: