Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Dulu bung Karno berpidato tentang definisi bangsa, beliau mengutip filsuf Ernest Renan yang mengatakan bangsa adalah sekelompok orang yang dipersatukan karena persamaan nasib, lalu proklamator ini melengkapi bahwa identitas suatu bangsa dilihat dari kecintaan mereka terhadap tanah air.

Namun definisi ini sebenarnya lebih bernuansa politik ketimbang ilmiah. India dan Pakistan merupakan dua bangsa yang bernasib sama, sama-sama dijajah Inggeris dan sama-sama mau dimerdekakan, namun persamaan nasib tidak membuat mereka menjadi satu bangsa, perbedaan agama jadi penghalangnya.

Satu nasib dan satu agama juga belum tentu menjadi sebab terciptanya suatu bangsa. Pakistan dan Bangladesh dulunya satu negara, karena wilayahnya terpisah jauh maka Bangladesh memerdekakan diri memunculkan bangsa yang baru, bangsa Bangladesh.

Kita mau mengatakan keberadaan bangsa yang paling kokoh karena dipersatukan oleh faktor etnis..? Tidak juga, orang Melayu di Kepulauan Riau satu etnis dengan Melayu Malaysia, namun mereka terpisah menjadi bangsa yang berbeda. Orang Minangkabau sedarah dengan penduduk di kerajaan Negeri Sembilan, yang satu bilang sebagai bangsa Indonesia dan yang lain menyatakan diri bangsa Malaysia. Pak Lah, bekas PM Malaysia adalah orang Bugis, tapi ketika ketemu pak JK wapres kita yang juga dari Bugis, keduanya bisa ribut membela bangsa masing-masing.

Maka identitas kebangsaan dibentuk berdasarkan alasan politis, untuk memunculkan adanya persatuan rasa dari kelompok yang mengidentifikasikan diri sebagai 'kita', menghadapi pihak lain di posisi seberang yang dikategorikan sebagai 'mereka'. Identitas kebangsaan dimunculkan karena adanya satu pihak yang harus berjuang melawan pihak lain yang menindas. Dengan adanya identitas kebangsaan ini diharapkan semangat untuk melakukan gerakan bersama-sama bisa muncul, berkembang menjadi kekuatan efektif untuk mencapai tujuan bersama.

Di jaman sekarang kolonialialisme sudah boleh dikatakan tidak ada lagi, namun aspek penindasan dan ketidak-adilan tetap berjalan, pelakunya bisa saja dari pihak yang dulunya satu bangsa dengan kelompok tertindas dan terpinggirkan, dan sesuai dengan unsur kebangsaan yang relatif tersebut faktor etnis tidak lagi menentukan. Kwik Kian Gie atau juga Jaya Suprana yang berdarah Cina, bisa saja menyatakan dirinya sebagai bangsa Indonesia bersama-sama kaum terpinggirkan dari etnis lain seperti orang Jawa, Batak, Minang, Makassar, Ambon, Papua, dll, melawan kelompok yang ada diseberang yang juga berasal dari etnis yang sama. Apalagi di era perang proxy seperti saat ini, pihak penindas kolonialis gaya baru merupakan orang-orang yang bekerja demi kepentingan boss mereka di luar negeri, mengeruk sumber daya alam dan memiskinkan penduduk negeri di wilayah Indonesia


0 komentar: