Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Topik ini juga merupakan perbincangan yang 'hot' dalam forum debat lintas agama khususnya Islam dan Kristen. Terlepas dari kebanyakan niat hanya sekedar menghina atau melecehkan dari kedua pihak, namun sebenarnya menarik untuk dianalisa.

Biasanya dari kalangan debaters Islam mereka mengutip ayat-ayat dalam Kidung Agung yang menggambarkan kegiatan seksual dan penjelasan 'bagian-bagian sensitif' secara figuratif, sebaliknya pihak Kristen tidak mau kalah, sekalipun ayatnya tidak begitu banyak dalam Al-Qur'an, mereka biasanya menyodorkan ayat wakawaa'ib atraaban (QS 78:33), lalu melontarkan komentar :"Siapa bilang hanya alkitab yang memuat ayat-ayat porno, buktinya Al-Qur'an juga ada..". Secara literal kata kawaa'ib mempunya akar kata yang sama dengan ka'b, artinya : tumit, ini merupakan istilah Arab yang menunjukkan bahwa seorang wanita disebut kawaa'ib karena memiliki dada yang baru tumbuh sebagaimana bentuk tumit, maka pihak Kristen melakukan 'serangan' dengan mengatakan Al-Qur'an juga memuat ayat berbau porno. lalu tuduhan dilanjutkan dengan menyampaikan alasan yang terlihat ilmiah :"Makanya.., sesuatu itu dikategorikan porno atau tidak tergantung mindset yang membaca atau melihat, kalau isi kepalanya memang kotor maka penerimaannya pasti juga kotor. Buktinya tiap manusia tidaklah sama, pihak lain mengatakan ketelanjangan adalah porno, namun bagi seniman itu adalah suatu karya seni".

Mengkaitkan soal pornografi dengan mindset, saya jadi teringat dengan lelucon ketika masih menjadi mahasiswa di Bandung puluhan tahun lalu. Seorang teman bercerita :"Nonton film porno buat si Anu tidak ada pengaruhnya, dikasih gambar porno juga tidak bergeming, anteng saja.., Tapi ketika dia melihat sabun dikamar mandi kepalanya langsung panas.." :-D

Mengkaikan mindset pribadi dengan pornografi adalah sesuatu yang gegabah dan salah arah, karena pada hakekatnya pornografi lebih terkait dengan aspek sosiologis dan budaya, jadi melibatkan nilai-nilai yang hidup di masyarakat secara umum, bukan tergantung kepada 'instink' personal. Kalaulah mindset seseorang dijadikan ukuran, melihat gambar sepatu atau jam dinding saja mungkin ada yang terpancing nafsu syahwatnya, karena mindset dibangun berdasarkan pengalaman pribadi, kadang memunculkan hubungan-hubungan yang tidak logis, sepatu bagi seseorang bisa merangsang nafsu syahwatnya karena mungkin sebelumnya dia memiliki pengalaman dengan wanita yang memakai sepatu menampilkan betis yang indah, dan seterusnya..

Maka ukuran suatu ayat-ayat kitab suci apakah termasuk pornografi atau tidak harus dilihat berdasarkan bagaimana penerimaan komunitas pihak yang menerimanya. Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, sedangkan alkitab dikatakan memiliki bahasa asli Ibrani dan Yunani. Tanyakanlah kepada orang Arab, baik dari kalangan Muslim maupun kafir tentang kata kawaa'ib, apakah itu berkesan merupakan kata-kata porno atau tidak, sebaliknya sampaikan ayat-ayat Kidung Agung dalam bahasa Ibrani kepada kaum Yahudi, lalu tanyakan kepada mereka apakah secara sosiologis ini merupakan suatu pornografi atau tidak. Ini sama saja kalau kita bertanya kepada orang Betawi bagaimana tanggapannya tentang kata : perawan, ataupun kita orang Indonesia dalam menanggapi kata : perjaka. Secara literal perawan berarti wanita yang selaput keperawanannya masih utuh, belum tersentuh laki-laki, sedangkan perjaka maksudnya adalah pria yang belum pernah berhubungan kelamin dengan wanita. Secara literal ini jelas pornografi, namun secara sosiologi tentu saja bukan, karena orang Betawi tidak akan tersinggung kalau kita mengatakan anak wanitanya sebagai anak perawan, atau juga orang Indonesia tidak risih untuk menyebut perjaka bagi anak laki-lakinya yang belum menikah.

Kalaupun pihak Kristen masih berkelit dan ngotot mau menyamakan adanya ayat-ayat pornografi dalam Al-Qur'an sebagaimana juga alkitab, maka ada cara lain untuk membuktikannya. Silahkan diminta masing-masing membacakan ayat-ayat tersebut kepada anak-anak mereka, orang Arab membaca ayat kawaa'ib atraaban kepada anak-anak mereka dan Yahudi membaca ayat Kidung Agung dalam bahasa Ibrani kepada anak-anak mereka. Faktanya jangankan dibacakan oleh orang lain, anak-anak Arab sendiri mentadaruskan Al-Quran yang memuat ayat tersebut, membaca bersama-sama dengan keras, mereka sudah mempelajarinya sejak kecil dan tidak ada penolakan atau sensor untuk ayat-ayat tertentu.

Lalu bagaimana dengan Yahudi sebagai bangsa pengguna bahasa asli alkitab..? Mungkin saja berdasarkan mindset personal si pembacanya menganggap ini adalah ayat-ayat yang penuh dengan pelajaran soal moralitas, kalau dia keberatan untuk membacakan didepan anaknya sendiri, maka ayat tersebut bisa dikategorikan sebagai ayat-ayat porno, secara sosiologis dan budaya..


0 komentar: