Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Seandainya dijaman Rasulullah sudah ditemukan alat perekam suara, tape, audio recorder, dll, apakah orang masih peduli dengan sanad (mata rantai) bacaan Al-Qur'an yang akan dipelajari..? Kalau dijaman Nabi Muhammad tersebut sudah dikenal adanya handycam yang merekam setiap perilaku Rasulullah, apakah masih diperlukan kitab hadits Bukhari, Muslim, dll..? Apalagi kalau seandainya mereka sudah mengenal stasiun radio dan televisi, internet, yang mampu menyebarkan secara langsung setiap pengajian dan ceramah nabi dan para sahabat, maka posisi para perawi menjadi tidak berguna. Buat apa ada perawi..? semua mata dan telinga bisa langsung berhubungan dengan Rasulullah.

Sanad dimunculkan para ulama karena waktu itu proses penyebaran ilmu lebih banyak berdasarkan transmisi lisan, karena mesin cetak belum ditemukan umat manusia, alat elektronik seperti kaset dan video recorder belum ada. Kalaupun sudah ditulis orang beberapa buku namun jumlahnya masih terbatas karena ditulis tangan. Seorang Muslim yang ingin memperdalam agama Islam mau tidak mau harus mendatangi majelis ilmu dan bertemu dengan ulama untuk menerima pengajaran secara lisan. Maka untuk mencegah terjadinya kesesatan karena berpotensi mendapat masukan dari pihak yang tidak tepat, maka sanad dibutuhkan, dalam arti : ulama yang dimintakan ilmunya tersebut dikenal sebagai Muslim yang taat dan benar, diakui oleh banyak kalangan, punya reputasi yang tidak cacat, jelas silsilahnya darimana dia mendapatkan ilmu tersebut.

Dijaman sekarang dunia sudah berubah, mesin cetak ditemukan sehingga gampang untuk mendapatkan buku-buku, ada rekaman audio dan video bacaan ayat Al-Qur'an menurut berbagai qiraah sehingga kita tidak perlu lagi datang ke Arab Saudi atau Mesir untuk belajar membaca Al-Qur'an. Buah pikiran para ulama baik yang terdahulu maupun yang kontemporer gampang ditemukan di Youtube dan medsos. Ketika anda mau mendapatkan suatu dalil baik dari Al-Qur'an, hadits maupun pendapat seorang ulama terkemuka, anda tidak perlu mencari murid keturunannya, menelusuri silsilah mata rantai ajarannya, anda bisa mengakses langsung sumber informasi yang memuat hasil buah pikiran ulama tersebut.

Kalaupun seorang Muslim punya keterbatasan dalam menguasai bahasa Arab, tidak begitu paham nahwu syarof, dll, bukankah buku pendapat ulama yang dia kutip, dirumuskan oleh si penulisnya berdasarkan dasar-dasar ilmu tersebut..?,  lalu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Kita menerima ilmu dalam bentuknya yang sudah jadi, dan kualitasnya diakui serta dikonfirmasi oleh para ulama lain.

Jadi kalaupun ada nasehat ulama yang mengatakan sanad adalah wajib ketika kita belajar ilmu, maksudnya terkait kepada silsilah dari isi ajaran, bukan tentang cara belajar, bahwa dalil dan argumentasi yang mau kita ambil berasal dari Al-Qur'an, hadits yang kuat dan pendapat ulama yang saleh. Ketika seseorang menyampaikan pendapat soal materi agama, kita tidak usah mengatakan :"Antum belajar ilmu dengan siapa..? pernah ngaji di pesantren mana..? siapa kiyai antum..?", periksa saja apa isi ucapannya dan ulama mana yang dia jadikan rujukan. Seseorang yang awam memberikan pendapat lalu mengatakan ;"Ini pemahaman dari imam Syafi'i, ada dalam buku beliau yang berjudul anu, maka artinya sanad ilmu terkait topik tersebut bersambung kepada Imam Syafi'i. lalu apakah anda mau meremehkan pendapat tersebut hanya karena pihak yang menyampaikan tidak mendapatkannya secara langsung dari kiai atau ustadz yang punya silsilah ilmu..?

Status ini tidak bertujuan untuk meremehkan para ulama, para kiyai, syeikh, ustadz yang berilmu. Sebagai Muslim yang sudah menuntut ilmu sepanjang umur tentu saja mereka menguasai ajaran Islam lebih hebat dari siapapun, bahkan pendapat merekapun bisa kita jadikan acuan serta pedoman, penghargaan tetap diberikan kepada mereka. Kita hanya perlu mendudukkan posisi para ulama tersebut secara proporsional, bahwa dalam pengembangan ajaran Islam, para ulama yang ada bukan satu-satunya media untuk memperoleh ilmu agama.

Dengan dukungan teknologi informasi, semua Muslim bisa belajar kepada para ulama manapun, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat


0 komentar: