Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Kisah nenek moyang manusia, Adam dan Hawa, selalu menarik untuk dibahas, sejalan dengan keingin-tahuan umat manusia terhadap asal-usul mereka, mengapa dan bagaimana sampai kita semua hidup di dunia ini, harus menjalani kehidupan yang kadang penuh kesenangan sehingga tidak rela kalau cepat-cepat mati meninggalkannya, atau sebaliknya melalui kesempitan hidup penuh sesak napas lalu berharap buru-buru bisa berpindah ke alam selanjutnya.

Kisah Adam dan Hawa tidak hanya dimuat dalam Al-Qur'an saja, namun juga ada dalam kitab suci agama lain, disampaikan melalui cara penyajian masing-masing. Alkitab menarasikan cerita ini dengan sangat manusiawi karena berbentuk penafsiran-penafsiran dari sudut pandang pemahaman manusia penulisnya, sedangkan Al-Qur'an memiliki gaya metafora, terbuka untuk banyak penafsiran. Faktanya sejak jaman dahulu kita memang bisa menemukan beragamnya tafsir ulama, termasuk dalam mengartikan kata dari benda-benda yang terlibat seperti : jannah, sajaratun, khuldi, dll.

Berdasarkan informasi Al-Qur'an kita menyimpulkan beberapa point :

1. Tujuan penciptaan manusia melalui Adam dan Hawa memang untuk ditempatkan dimuka bumi, lengkap dengan segala sifat mereka yang suka berbuat kerusakan dan saling membunuh. Ketika para malaikat 'memprotes' rencana Allah ini, Allah sama sekali tidak membantahnya, tapi menjawab bahwa Dia lebih tahu sedangkan malaikat tidak mengetahui. (QS 2:30) dari ayat ini tersirat juga bahwa manusia tidak hanya diciptakan terbatas kepada Adam dan Hawa saja tapi menunjukkan suatu komunitas yang berjumlah banyak, artinya memang akan berkembang-biak melalui mereka berdua.

2. Setelah diciptakan, Adam dan Hawa ditempatkan di jannah. Disini juga muncul beberapa penafsiran ulama tentang apa yang disebut jannah. Menurut arti katanya 'jannah' berarti kebun, suatu wilayah tempat tersedianya kebutuhan manusia. Kalau kita berpikir seandainya di dunia ini hanya ada 2 orang laki dan perempuan, hidup dan memenuhi kebutuhan dari apa yang disediakan alam saja, maka bumi ini bisa dikatakan sebagai 'jannah' kita. Dua orang manusia dijamin tidak akan kelaparan karena akan menemukan makanan dimanapun. Kita tidak membutuhkan mobil untuk menjangkau tempat yang jauh, tidak butuh rumah karena alam menyediakan banyak tempat berlindung, Bumi yang luas ketika diisi oleh 2 orang manusia pasti akan menjadi 'jannah; mereka.

3. Ketika Adam dan Hawa melanggar larangan, memakan buah dari 'sajaratun', disitu muncul masalah. Mereka jelas dikatakan telah berdosa karena sudah melanggar larangan, namun Al-Qur'an secara tegas juga menyatakan dosa tersebut diampuni Allah, artinya berpindahnya mereka dari jannah ke dunia bukan merupakan hukuman atas dosa tersebut. Hidup di dunia bukan kutukan, bahkan Allah mengatakan di dunia ini ada kesenangan, sehingga manusia banyak yang enggan untuk meninggalkannya. (QS 2:36, QS 7:24). Secara logika perpindahan dari 'kebun' ke dunia bisa dikatakan merupakan konsekuensi logis dari perbuatan mereka memakan buah dari 'sajaratun'. Ini diibaratkan anda misalnya telah melanggar larangan makan babi, lalu setelah itu Allah mengampuni perbuatan tersebut, namun konsekuensi logisnya tidak bisa dihapus, perut anda kenyang, babi yang sudah dimakan tetap akan menghasilkan energi karena pengampunan dosa tidak akan membuat anda kembali menjadi lapar sebagaimana sebelum memakannya.

4. Lalu apa artinya ;sajaratun'..? Bahasa Arab mengenal kata ini dengan arti " pohon, namun juga bisa diartikan 'silsilah, garis keturunan'. Kata sejarah yang diadopsi dalam bahasa Indonesia bersumber dari kata ini karena catatan kronologis kehidupan manusia dimasa lampau erat kaitannya dengan infomasi tentang silsilah garis keturunan. Kalau sajaratun dimaknai sebagai garis keturunan, apa hubungannya perbuatan Adam dan Hawa tersebut dengan munculnya keturunan..? Disini kita mencoba mengkaitkan antara pelanggaran yang memunculkan keturunan ini dengan konsekuensi logis berubahnya jannah menjadi bumi. Berkembangnya jumlah manusia jelas akan memunculkan persaingan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Tersedianya makanan oleh alam menjadi terbatas karena makin banyak mulut yang harus dilayani, manusia harus lebih berusaha mengolah alam. Maka tidak salah ketika kita mengartikan bahasa metafora larangan mendekati sajaratun tersebut adalah dimulainya kegiatan seksual, hubungan suami istri, suatu cara manusia untuk melanjutkan keturunan mereka.

5. Muncul pertanyaan :"Kalau Adam dan Hawa diciptakan sebagai sepasang suami istri, lalu apa salahnya dengan hubungan seksual diantara mereka, apakah Allah sudah berlaku dzalim memberikan dorongan nafsu syahwat namun melarang mereka untuk menyalurkannya..?". Al-Qur'an menyebutkan bahwa Hawa merupakan 'zawjan' dari Adam, pengertian kata ini adalah : istri, suami, pasangan. Suami-istri dikatakan merupakan pasangan, namun tidak semua pasangan bisa dikatakan sebagai suami istri yang melekat legalisasi hubungan seksual didalamnya. Pasangan ganda campuran bulutangkis juga disebut sebagai pasangan, namun mereka bukan suami istri, siang dan malam adalah pasangan, dan mereka tidak bisa dikatakan sebagai suami istri. jannah hanya diisi oleh Adam dan Hawa, tentu saja keduanya akan dikatakan sebagai pasangan karena terdiri dari 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

6. Lalu untuk menjawab pertanyaan mengapa Allah menciptakan sepasang manusia tersebut lengkap dengan dorongan nafsu syahwat namun tidak membolehkan mereka untuk melakukan hubungan seksual sebagai penyalurannya..?. Disini akan muncul berbagai kemungkinan. Bisa jadi ini merupakan cara Allah untuk mengakomodasikan rumitnya cara berkembang-biak umat manusia, yang berkaitan dengan interaksi sosial, perasaan, cinta, pertimbangan ekonomi, bahkan juga termasuk aspek kekuasaan dan penaklukan. Allah sendiri terlhat 'mengecam' kelemahan Adam dan Hawa ketika mereka melanggar larangan ini dengan mengatakan 'Adam tidak mempunyai kemauan yang kuat' (QS 20:115) untuk mematuhi aturan tersebut. Ini mengesankan bahwa Allah kemungkinan punya cara lain seandainya Adam dan Hawa sanggup mematuhinya.

7. Mengkaitkan kata memakan buah sajaratun dengan hubungan seksual juga diperjelas oleh Al-Qur'an ketika dikatakan setelah melakukan perbuatan tersebut mereka tiba-tiba melihat aurat satu sama lain (QS 20:121, QS 7:22). Apa hubungannya makan buah sajaratun dengan terbukanya aurat..? Ini makin memperkuat bagaimana sebenarnya bentuk pelanggaran Adam dan Hawa tersebut, mungkin ketika mereka mulai melakukan hubungan suami istri tersebut lalu muncul pengetahuan dan pemahaman akan aurat, suatu batasan yang ditetapkan Allah dan kebolehan melihatnya yang berhubungan erat dengan status suami istri.

Penjelasan diatas barangkali bisa menjawab beberapa pertanyaan penting disekitar kisah Adam dan Hawa, bahwa Allah memang menciptakan mereka dimuka bumi yang waktu itu disebut sebagai jannah karena jumlah manusia hanya berdua, lalu jannah tersebut berubah fungsi menjadi dunia seperti yang ada saat ini karena Adam dan Hawa melakukan hubungan suami istri yang dilarang oleh Allah, karena bisa memunculkan keturunan yang otomatis akan merubah kondisinya. Bahwa turunnya manusia dari jannah ke bumi bukan merupakan kutukan dari dosa karena Allah sudah mengampuni mereka, tapi memang karena konsekuensi logis dari perbuatan pelanggaran tersebut. Anda berzina melanggar larangan Allah, lalu dosa anda diampuni, namun si wanita akan hamil dan status anda tetap akan menjadi seorang ayah. Pwengampunan dosa berzina tidak akan membuata si anak akan masuk kembali ke rahim ibunya.

Namun ini hanyalah satu penafsiran dari keterbatasan kita untuk memikirkannya, soal kebenaran dari penjelasan ini wallahu'alam..


0 komentar: