Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Belakangan muncul beberapa pengakuan dari beberapa orang Indonesia tentang masyarakat Jepang, tidak kurang dari Anies Baswedan yang melakukan kunjungan kesana untuk belajar menata lingkungan, sampai kepada pernyataan artis Rina Nose yang memuji-muji kehidupan disana yang serba teratur, disiplin, tentram, bersih. Di Jepang kita akan jarang menemukan tong sampah dan hebatnya tidak ada juga sampah berserakan dijalan. Sulit ditemukan demo anarkis, perang hujatan di medsos, kerusuhan. Lalu disimpulkan masyarakat Jepang jauh lebih islami dibandingkan orang Indonesia.

Saya tidak perlu menggambarkan kondisi dan perilaku masyarakat Indonesia sebagai pembanding, anda tentu tahu persis...

Namun disisi lain ternyata kita dihadapkan kepada fakta kalau tingkat bunuh diri di Jepang jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Tercatat sekitar 25 ribu kasus bunuh diri pertahun atau setiap hari 70 orang menghabisi nyawanya sendiri. Bunuh diri umumnya dilakukan orang disebabkan 2 hal, kalau tidak putus asa dengan kehidupan, pasti dilakukan karena kegilaan. Penelitian menunjukkan penyebab orang Jepang melakukan bunuh diri adalah karena kesepian dihari tua, masalah ekonomi dan pekerjaan, mengisolasi diri karena budaya yang tidak terbuka untuk mengekspresikan perasaan.

Beda dengan orang Indonesia, ditengah kemiskinan, ketidak-teraturan, sulit untuk berdisiplin, hobby berdemo, mereka masih mampu untuk melucu menertawakan kepahitan dan kedzaliman yang diterima. Banyak kita temukan tulisan dan meme segar terhadap kejadian yang sebenarnya mendatangkan kesulitan bagi masyarakat. Ini mungkin yang menjadi penyebab tingkat bunuh diri di negara kita termasuk rendah dibandingkan Jepang, bahkan juga dilingkungan negara ASEAN, jauh dibawah Singapura, Thailand dan Vietnam.

Ternyata keteraturan, ketenangan dan ketenteraman tidak selalu mendorong orang-orang bisa menikmati kehidupan mereka.


0 komentar: