Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Bagian yang paling saya suka dalam film The Godfather II adalah dialog yang terjadi antara Michael Corleone, si Godfather dengan penasehat dekatnya Tom Hagen, sesaat setelah terjadinya usaha pembunuhan yang masuk langsung kedalam rumah boss mafia tersebut, mengindikasikan adanya pengkhianatan dari orang dalam. Michael Corleone menyatakan bahwa saat ini hanya Tom satu-satunya orang yang bisa dia percayai, lalu ketika ditanya apakah si boss tidak lagi mempercayai para bodyguard lain yang selama ini terbukti mau mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi dirinya, sang Godfather menjawab dengan dengan dingin :"Orang-orang kita semuanya bisnisman, kesetiaan mereka didasarkan kepada bisnis tersebut. Berusahalah berpikir seperti orang-orang yang ada  disekitarmu, dengan dasar itu semua hal menjadi mungkin..".

Dalam kehidupan politik sebenarnya kurang lebih sama, pepatah terkenal mengatakan bahwa dalam politik tidak ada kawan ataupun lawan yang abadi, yang ada kepentingan yang abadi. Koalisi dan persaudaraan politik dibangun karena masing-masing pihak memiliki kepentingan satu sama lain, bisa merupakan sesuatu yang dianggap akan mendatangkan keuntungan atau sebaliknya menjaga rahasia yang bisa membahayakan ketika diumbar kepada khalayak ramai, istilahnya saling sandera. Ketika satu pihak memperhitungkan kawan koalisinya sudah tidak lagi mendatangkan keuntungan bahkan malah bisa membahayakan posisinya, maka sangat masuk akal kalau ada tindakan untuk segera menyingkirkan duri tersebut.

Kekalahan Ahok dalam pilkada Jakarta membuat dia menjadi 'kartu mati' bagi teman-teman seiring, sekurang-kurangnya sampai saat ini. Mereka tersebut bisa yang berasal dari unsur yang kasat mata seperti partai politik pendukung, maupun teman-teman 'siluman' yang banyak dibicarakan orang : para taipan dan  pengembang, Ketika Ahok menjabat gubernur dan diperhitungkan akan mampu meneruskan masa jabatannya, kelompok kepentingan ini tidak segan-segan untuk menyumbang tenaga dan dana mereka, semuanya adalah pebisnis yang melihat keuntungan yang bisa diperoleh dari pengorbanan yang diberikan. Namun ketika rakyat Jakarta bersikap lain, tidak ada lagi kekuasaan yang bisa dipakai Ahok untuk mengikat pendukungnya. Dalam hitung-hitungan bisnis Ahok sebenarnya sudah harus disingkirkan oleh teman-temannya sendiri.

Apalagi kita mengenal kalau Ahok adalah seorang 'bad boy' yang selalu bikin rusuh dengan sikap dan ucapan-ucapannya, tidak saja memancing emosi pihak lawan, tapi juga sebenarnya merepotkan teman-teman pendukungnya sendiri. Mereka harus sering berusaha menetralisir setiap kegaduhan yang muncul supaya tidak berimbas mengganggu kepentingan mereka. Ahok juga terkenal sebagai kutu loncat yang diragukan kesetiaannya kepada partai, seorang oportunis sejati.

Sikap partai pendukung seperti PDIP (melalui kekuasaan Jokowi) yang berusaha mempengaruhi proses pengadilan terkait penistaan agama juga didasari dasar hitung-hitungan ini, dan sejalan dengan kegagalan Ahok kembali menjadi gubernur, dukungan kelihatan sudah sampai kepada ujungnya. Jadi bukan tidak mungkin kalau PDIP menghitung sikap mereka untuk mendukung Ahok akan membahayakan kepentingan politik mereka, maka mereka bisa berbalik arah, menjerumuskan Ahok menjadi pesakitan, lalu berusaha memposisikan diri sebagai pihak yang berusaha melindungi kepentingan umat Islam yang sudah memenangi pilkada Jakarta.

Disisi lain, saya pikir Ahokpun bukan politisi sembarangan karena dia pasti akan berhitung modal apa yang sekarang dimiliki setelah tidak lagi menjadi gubernur Jakarta sehingga tetap mampu mengikat kelompok kepentingan yang selama ini mendukung, termasuk menjaga agar mereka tidak berbalik arah menghabisi dirinya. Modal tersebut juga bisa berarti rahasia-rahasia yang dia pegang selama menjadi bagian dari 'persaudaraan politik', yang kalau diungkapkan ke masyarakat akan bisa membahayakan posisi pihak lainnya.

Menarik untuk mengamati bagaimana karir politik Ahok selanjutnya setelah gagal dimana-mana. Apakah dia akan bisa bangkit lagi atau sebaliknya malah tenggelam, termasuk karena dijerumuskan oleh kawan-kawan seiring yang sudah tidak melihat lagi keuntungan yang diperoleh dengan terus berkoalisi dengan Ahok..


0 komentar: