Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.


Pernah terjadi suatu ketika dimasa lalu, pastor gereja Katolik di Padang-Panjang, kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 50 ribu jiwa dan hanya memiliki 2 kecamatan diranah Minangkabau, berkata kepada salah satu tokoh masyarakat disana :"Pak, apakah boleh kami diberikan satu lukisan rumah gadang dengan latar belakang alam Minangkabau untuk dipasang di gereja kami. Dengan adanya lukisan itu bisa menjadi lambang bahwa kami adalah bagian dari masyarakat disini..". Tokoh masyarakat tersebut lalu menjelaskan :"Gereja mungkin bisa saja menaruh lukisan tersebut, tapi kelihatannya sulit untuk memunculkan kesan bahwa anda adalah bagian dari masyarakat Minang, adat kami berlandaskan Islam, tidak ada lagi agama lain yang dijadikan dasar. Jadi sekalipun gereja anda ditempatkan banyak lukisan alam Minangkabau atau malah bentuk bangunannya disesuaikan dengan arsitek rumah adat, tetap saja anda akan diperlakukan sebagai orang asing..". Namun uniknya, justru kesatuan adat dan Islam yang terdapat pada suku Minang tersebut membuat mereka bisa hidup harmonis dengan pemeluk agama lain. Di Sumatera Barat anda bisa menemukan banyak gereja Katolik dengan pastor dan suster yang didatangkan dari Eropa, umumnya mereka memiliki jemaat dari kalangan pendatang dan keturunan Cina yang sudah hidup turun-temurun. Banyak dari gereja tersebut kemudian membangun sekolah SD sampai SMA dan orang Minang tidak berkeberatan menyekolahkan anaknya disana. Tidak pernah tercatat adanya kerusuhan berbau sara di wilayah Minangkabau. 

Dan yang paling penting, selama ini tidak ada kasus-kasus pemurtadan, berupa penipuan dari kalangan misionaris Kristen terhadap orang Minang untuk berpindah agama. Seingat saya, belum pernah saya ketemu adanya orang Minang yang jadi jemaat gereja di Padang Panjang. 

Memang dari dulu saya mendengar adanya beberapa kasus orang Minang yang murtad menjadi pemeluk Kristen, namun itu terjadi bukan di Ranah Minangkabau. Biasanya murtadin tersebut adalah perantau, lalu terdengar berita bahwa dia telah pindah agama. Umumnya orang Minang yang sudah keluar dari Islam sudah tidak nyaman lagi hidup di kampng halaman, karena pihak keluarga menjadi malu dan dianggap sebagai aib. Mereka merantau dan memutuskan segala hubungan dengan kaumnya. Sebaliknya dalam pandangan adat Minang, seseorang anggota kaum yang telah keluar dari Islam dikatakan sudah tidak lagi menjadi bagian dari adat, istilah kasarnya 'sudah tidak beradat', tidak berlaku lagi aturan adat, tidak bisa diangkat menjadi datuk atau penghulu, omongan sudah tidak di dengar orang apalagi dalam musyawarah dan rapat adat, benar-benar sudah diperlakukan sebagai orang asing. Mungkin ini yang menjadi salah satu penyebab seorang murtadin 'gerah' untuk hidup di lingkungan kaumnya. Sekalipun demikian, kasus-kasus perpindahan agama dari seorang Minang tidak menimbulkan kehebohan besar dalam masyarakat, sampai kemudian muncullah kegiatan Kristenisasi yang menghalalkan segala cara untuk memurtadkan orang Minang. 

Kristenisasi di Ranah Minangkabau seperti kentut, baunya kemana-mana walaupun tidak kelihatan, apalagi ketika media massa masih belum terbuka seperti sekarang ini. Cerita kaum misionaris untuk memurtadkan orang Minang diperoleh dari mulut ke mulut. Ketika teknologi berkembang dengan adanya internet, orang-orang Minang bisa mengakses berita dengan gampang, bahkan lengkap dengan foto dan rekaman videonya, bagaimana kelakuan kaum misionaris yang berusaha memurtadkan umat Islam termasuk di Ranah Minangkabau. Orang Minang kemudian dipasok berita soal kasus Wawah beberapa tahun lalu, membuat heboh karena usaha pemurtadan dilakukan dengan unsur pemerkosaan. Lalu rekaman video yang memperlihatkan beberapa misionaris yang berhasil lebih dahulu menerobos suatu desa terisolir di Pariaman akibat gempa besar, sedang berkhotbah 'ala' tukang jual obat kepada penduduk. Informasi-informasi tersebut menyebar kepada masyarakat Minang dan kemudian menjadi trauma yang mengendap di alam bawah sadar mereka. 

Bahaya Kristenisasi juga dirasakan oleh orang Minang yang ada dirantau. Banyak dari mereka yang hidup berbaur dengan penduduk setempat, menjadi pengurus masjid, aktif dalam lembaga ke-Islam-an termasuk mengurus tentang kasus-kasus pemurtadan, dan dijaman sekarang ini, sebagian aktif di dunia maya terkait dengan debat lintas agama, khususnya antara Islam dan Kristen. Kejadian-kejadian yang dihadapi, termasuk bagaimana 'busuknya' sikap kalangan Kristen dalam memperlakukan Islam di dunia maya, menumbuhkan kewaspadaan terhadap apapun yang berbau Kristen. 

Jadi ketika mencuatnya berita tentang rencana investasi dari Group Lippo untuk membangun sekolah Kristen, rumah sakit dan mal di Padang, reaksi sebagian orang Minang, baik yang di kampung maupun yang ada dirantau sebenarnya sudah bisa diperkirakan. Terlepas bisa dibuktikan atau tidak, faktor James Riady yang ada dibelakang group Lippo yang diberitakan sebagai aktivis misionaris yang dekat dengan Pat Robertson, pendeta Amerika yang anti Islam turut 'mematangkan' opini untuk menentang. Penolakan terhadap rencana investasi tersebut hanya merupakan puncak dari trauma orang Minang terhadap usaha pemurtadan yang sudah berjalan lama disana. 

Dalam hal ini, pihak yang mendukung investasi tersebut, termasuk dari Lippo sendiri, telah salah antisipasi ketika memberikan penjelasan. James Riady dalam wawancaranya dengan koran setempat berusaha meyakinkan tentang status perusahaannya yang merupakan 'public company' yang terbuka sambil menyatakan bahwa dia menghormati sepenuhnya kebiasaan, adat dan agama, seperti yang diajarkan para pendiri bangsa. Selanjutnya dia berusaha menjelaskan akibat positif yang bisa didapatkan oleh orang Minang :"Untuk RS Siloam di Khatib Sulaiman Padang, pihaknya akan mempekerjakan 95 persen orang Minang, mereka bagian dari 40 ribu muslim yang bekerja di 15 rumah sakit Siloam di Indonesia. Nanti di semua unit usaha akan bekerja 3.000 orang dan 99 persen orang Minang.” Tidak lupa pemilik Group Lippo ini menjelaskan tentang kondisi daerah Sumatera Barat :"Sumbar tertinggal jauh dibanding provinsi lain. “Ritel enggan masuk ke Sumbar karena mereka tidak mau ribet. Investor menghindari provinsi ini karena kabar yang bertiup di tingkat nasional, untuk masuk ke Sumbar sulit. Elit nasional juga tidak memperhatikan provinsi ini. Anda tahu kan MP3I seperti menghindar dari Sumbar, jalan tol masih di atas kertas, kasihan kita generasi muda. Saya masuk karena diundang, diminta membangun daerah Anda dan saya satu-satunya yang masuk.” 

Pernyataan dari pihak pejabat yang menyetujui setali tiga uang. Faktor terbukanya lapangan kerja dan peningkatan perekonomian rakyat yang baru saja didera gempa besar selalu ditonjolkan. Bahkan dalam beberapa kesempatan, sebagian pejabat pendukung menyalahkan pihak yang menentang sebagai orang yang berpikiran sempit, memiliki wawasan terbatas dan tidak mau menerima kemajuan jaman. 

Semua penjelasan dan tanggapan tersebut jelas 'jauh panggang dari api', sama sekali tidak menjawab pokok persoalan yang melatar-belakangi penolakan orang Minang terhadap pembangunan rumah sakit, sekolah dan mal tersebut. Orang Minang dihantui trauma adanya usaha kristenisasi yang mengancam anak kemenakan mereka, bahkan itu bisa terjadi dimasa-masa yang akan datang, sementara pihak yang mendukung malah melokalisir persoalannya hanya kepada urusan investasi Lippo saja. 

Maka cara yang paling bijak untuk mensikapi kasus ini seharusnya terletak kepada para pejabat pemerintah yang telah menyetujui, termasuk Group Lippo sendiri. Sementara lakukan 'cooling down' dulu, tunda rencana investasi 'untuk waktu yang belum ditentukan'. Biarkan orang Minang secara berangsur-angsur 'menyembuhkan' rasa ketidak-percayaan mereka akibat usaha kristenisasi yang dilakukan selama ini.


2 komentar:

ade chandra said...

kemajua teknologi pada setiap daerah akan berjalan dengan sendirinya dan tanpa ada paksaan , itulah kemajuan dan perkembangan yang sempurna

Mustamar Sutan said...

Almarhum H.Agus Salim adalah putra Minang yg tidak silau dg kemajuan fisik ala penjajah, sehingga memilih mendidik anak-anaknya sendiri ternyata berhasil juga anak cucu beliau dan tetap istikhomah.