Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.

Perlu disampaikan terlebih dahulu, pengetahuan kita tentang malaikat, khususnya umat Islam, berpedoman kepada informasi yang disampaikan dalam Al-Qur’an dan hadits, karena keduanya memang berasal dari Allah yang Maha Tahu, Al-Qur’an adalah wahyu dengan redaksi kalimat yang sepenuhnya berasal dari Allah, sedangkan hadits adalah wahyu yang redaksi kalimatnya berasal dari Rasulullah, namun keduanya adalah wahyu juga (dengan catatan hadits yang dimaksud memang berasal dari ucapan Rasulullah). Sebagai seorang Muslim, kita tidak mengetahui tentang malaikat diluar jalur tersebut. Mungkin saja ada yang mengenal malaikat melalui kontak langsung misalnya Lia Aminuddin yang mengaku nabi dan menikah dengan malaikat Jibril, atau juga banyak orang yang menyatakan diri sebagai wali atau orang sakti karena mengaku telah bertemu malaikat, namun baiknya hal tersebut kita abaikan saja. 

Informasi Al-Qur’an dan hadits menyatakan malaikat diciptakan Allah dengan desain sebagai makhluk yang dimuliakan : 

Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, (Al-Anbiyaa': 26) 

Bentuk kalimat ‘makhluk yang dimuliakan’ adalah kalimat pasif, artinya kemuliaan malaikat bukan merupakan hasil dari tindakan bebas mereka untuk menjadi mulia, tapi karena memang sudah ‘dicetak’ seperti itu. 

Penjelasan Al-Qur’an yang lain tentang sosok malaikat misalnya : Malaikat selalu mentaati perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya (QS 21:27), menjalankan kewajiban yang penting seperti menyangga ‘arsy (QS 69:17) mengatur urusan yang terkait kehidupan manusia (QS 79:5), mengambil nyawa manusia dan makhluk hidup lain (QS 7:37), sebagai pengawas dan pencatat perbuatan manusia (QS 82:10-12). Semua penjelasan tersebut menunjukkan malaikat berfungsi sebagai ‘instrument’ yang melengkapi kehidupan manusia, sebagai ‘perpanjang-tangan’ Allah dalam interaksi-Nya dengan manusia. 

Malaikat tidak mempunya nafsu, Al-Qur’an menceritakan bahwa mereka tidak memiliki nafsu untuk makan dan minum melalui kisah kedatangan mereka kepada nabi Ibrahim dan menolak makanan yang disodorkan beliau (QS 11:69-70). Dalam suatu pernyataannya Ali bin Abi Thalib menyatakan :“Tidak ada kelelahan dan kelalaian di dalam diri mereka, serta tidak pula ada penentangan … Rasa kantuk tidak pernah terlihat pada wajah-wajah mereka, dan akal mereka tidak akan pernah berada dalam kekuasaan hawa nafsu dan kelalaian. Badan mereka tidak pernah diselimuti oleh rasa lelah, dan mereka pun tidak pernah berada dalam sulbi seorang ayah dan rahim seorang ibu.” 


 
Alkisah seorang tua miskin disuatu kampung memiliki seekor kuda putih yang indah. Penduduk kampung tersebut menyarankan agar pak tua menjual saja kuda tersebut karena membutuhkan biaya besar untuk merawatnya agar tetap terlihat cantik, lagipula kuda seindah itu rentan terhadap pencurian, namun pak tua menolak untuk menjualnya. Suatu ketika kekhawatiran warga kampung menjadi kenyataan, kuda sudah tidak ada lagi dikandangnya, raib entah kemana. Melihat kejadian ini, penduduk lalu menyalahkan orang-tua :”Lihatlah.., apa yang kami sampaikan adalah sesuatu yang logis dan masuk akal, semua orang juga akan berpikiran yang sama, bahwa kuda yang cantik tersebut akan hilang dicuri. Karena anda tidak mau menerima pendapat yang masuk akal ini maka sekarang anda harus menghadapi musibah, kehilangan kuda..”. Pak tua menjawab :”Darimana kalian tahu kalau kehilangan kuda yang cantik tersebut menjadi musibah buat saya..?”. 

Ternyata beberapa hari kemudian kuda yang cantik tersebut kembali lagi ke kandangnya. Rupanya si kuda pergi ke hutan untuk beberapa lama dan berkumpul dengan kuda-kuda liar yang hidup disana, ketika kembali, kuda tersebut membawa belasan kuda liar untuk masuk ke kandang bersama-sama. Mendengar kejadian ini, penduduk kemudian mendatangi pak tua dan berkata :”Ternyata anda benar, apa yang dalam pandangan logis kami merupakan musibah buat anda ternyata malah sebaliknya, merupakan suatu keberuntungan yang besar..”. lagi-lagi pak tua tidak peduli dan menjawab :”Darimana kalian tahu kalau bertambahnya kuda yang saya miliki tersebut merupakan keberuntungan..?”. Penduduk kampung kembali heran dengan jawaban pak tua, mereka kemudian pergi dengan bertanya-tanya. 



Saya perhatikan, gerakan liberal sekarang ini sebenarnya sudah 'terpuruk di pinggiran twitter', tidak lagi mempunyai gaung yang bisa mempengaruhi perhatian umat. Hanya tinggal celetukan tidak berarti di kultwit, yang diributkan melulu soal jilbab, teror, hukum potong tangan, radikalisme, dll. Website Islamlib isinya cuma mengulang-ulang topik yang sudah basi, soal konteks sejarah Al-Qur'an, hermeneutika, kritik teks. Abu Zayd atau Arkoun yang dulunya 'bergengsi' untuk dikutip, sekarang sudah terlihat seperti 'manusia dari jaman lampau', pemikiran mereka tidak memunculkan hal yang baru dalam khazanah Islam, malah muncul puluhan buku yang mementahkan apa yang disampaikan. Sudah lebih dari 30 tahun, tidak ada perubahan fundamental dalam pemikiran Islam, umat tetap saja sibuk mengkaji pemikiran para ulama klasik, dan mengaktualisasikan dan merevitalisasikannya. Tahun 80’an, JIL yang dimotori oleh Taufik Adnan Amal, membuat gagasan untuk memunculkan ‘Al-Qur’an Edisi Kritis’ yang diharapkan menghasilkan versi yang sesuai dengan nilai-nilai HAM, kesetaraan gender, demokrasi yang dianut oleh dunia sekarang ini., dan juga sudah 30 tahun berlalu, tidak menghasilkan apapun.

Anak-anak muda pengikut paham liberal (termasuk yang kuliah di UIN), tidak lebih dari orang-orang yang berperilaku 'tengik', banyak mengutip istilah-istilah asing yang sebenarnya tidak mereka mengerti, pokoknya asal memuat jargon : HAM, kesetaraan, demokrasi, kebebasan, dll. Saya lihat usaha mereka untuk ‘memodernisasikan’ lagak dan gaya ternyata tidak berhasil. Saya kurang begitu paham tentang alasan munculnya arus pemikiran liberal pada kelompok Islam ‘tradisional’ seperti mahasiswa UIN (dulunya IAIN) dan para lulusan pesantren. 


 
Ada cerita yang tercecer dari perjalanan umroh saya di bulan ramadhan kemaren, terkait dengan interaksi yang terjadi dengan jamaah yang datang dari seluruh penjuru dunia.. 

Kebetulan jadwal perjalanan kami selama sebulan di tanah suci terlebih dahulu berkunjung ke Madinah, untuk beribadah di masjid Nabawi selama 3 hari, setelah itu baru berpindah ke Makkah melakukan umroh dan shalat di Masjidil Haram sebanyak-banyaknya, mengikuti yang fardhu dan juga tarawihnya sekalian. Sebagaimana kebiasaan pada kedua masjid tersebut, ketika menjelang maghrib di bulan Ramadhan, pihak pengelola selalu menyediakan ‘tajil’ untuk berbuka puasa, kalau di Madinah agak rada lebih lengkap, berupa korma dan roti, ‘laban’; semacam yoghurt dari susu sapi kental yang sudah di fermentasi, ‘syai’ panggilan Arab untuk teh, ataupun ‘gawa’ kopi Arab. Tentu saja tidak ketinggalan beberapa gelas air zamzam. Bagi anda yang biasa ‘bertajil-ria’ di masjid-masjid Indonesia, jangan heran kalau disana tidak akan ditemukan kolak, cendol, lemper, dll karena bagi orang kita istilah tajil memang melekat kepada jenis-jenis makanan tersebut, sampai-sampai ada yang menyangka kalau tajil adalah kata Arab untuk kolak atau cendol. Tajil memang berasal dari bahasa Arab ‘ajjala’ artinya : menyegerakan, mendahulukan. Maksudnya sebelum melakukan buka puasa dengan makanan besar, umat Islam terlebih dahulu membatalkan puasanya dengan memakan makanan kecil lalu shalat maghrib, setelah itu baru berbuka dengan makanan seperti biasanya. 


 
Pernah dalam suatu kesempatan perjalanan umroh di Madinah, diadakan pengajian terbatas oleh ustadz pembimbing dihotel tempat menginap, mengisi waktu mulai dari ba’da Ashar menunggu datangnya waktu Maghrib. Sang ustadz memulai dengan suatu pertanyaan :”Lihatlah.., katanya, “kita sedang berada di negeri yang kaya raya, penduduknya makmur. Bahkan kota ini sibuk dengan kegiatan perdagangan, toko-toko selalu ramai didatangi pembeli dari seluruh dunia, hotel dan penginapan jarang yang kosong.” Lalu dia melanjutkan :”Apa gerangan yang menyebabkan Allah melimpahkan rahmat dan berkah terhadap penduduk negeri dan kota ini..?”. Ustadz ini jelas sedang mengajukan pertanyaan retorika, karena kemudian dia menjawabnya sendiri :”Terlepas dari segala kekurangan perilaku penduduknya secara personal, disini masjid selalu penuh ketika datang waktunya shalat fardhu, jangankan masjid Nabawi, masjid kecil yang bertebaran disela-sela pertokoan juga sama saja penuhnya dan melimpah sampai kejalanan, jamaah yang berada diluar ruangan sering lebih banyak dibandingkan mereka yang ada didalam ruangan. Penduduk kota ini sudah memiliki sikap yang mendarah-daging, bahwa shalat fardhu memang harus berjamaan di masjid terdekat. Bagi mereka yang kebetulan sedang berdagang menunggu toko akan segera menutup tokonya dengan hanya selembar kain dan bergegas pergi ke masjid, semua kegiatan ditinggalkan untuk memenuhi kewajiban mereka kepada Allah”. 

“Kota Medinah dan Makkah dengan ketat menjaga agar penyakit masyarakat berupa tempat maksiat, judi, dll tidak muncul dan berkembang diwilayah mereka. Semuanya beramar makruf nahi munkar..”. 

Lalu sang ustadz melanjutkan :”Inilah yang menyebabkan Allah memberikan berkah kepada para penduduk negeri..”. 

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al-A'raaf: 96)