Loading

Jumlah Kunjungan

Artikel Terbaru MMT

Facebook Arda Chandra

Powered by Blogger.
 
Sekarang lagi musim munculnya ‘intelektual muda’, biasanya mereka mencantelkan diri kepada ormas Islam yang mempunyai citra sebagai organisasi yang diisi dan diurus oleh ‘orang-orang tua’ yang sudah mapan, baik dalam pemikiran maupun dalam status sosial di masyarakat. Maka kita akan sering menemukan seseorang disebut sebagai : intelektual muda NU, intelektual muda Muhammadiyah, mungkin besok lusa akan bermunculan orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai intelektual muda FPI, FBR, Pemuda Pancasila, atau juga yang berorientasi kepada daerah asal : intelektual muda Batak, intelektual muda Urang Awak, intelektual muda Ambon. Kita juga tidak tahu siapa sebenarnya yang menyematkan status sebagai intelektual muda, apakah diri mereka sendiri, atau orang lain. Tidak juga jelas apa kriteria seseorang bisa dikatakan termasuk kategori intelektual muda, berapa batas usianya, hasil karya apa yang bisa dijadikan patokan. 

Yang pasti kiprah intelektual muda ini bermacam-macam, namun pada umumnya kelakuan mereka terkesan cukup progresif dan ‘berani tampil beda’, maka hasil pemikiran mereka banyak bersinggungan dengan kaum liberal. Dikatakan munculnya gejala intelektual muda ini disebabkan beberapa anak-anak muda yang berorientasi kepada ormas Islam tertentu seperti NU dan Muhammadiyah merasa gelisah menghadapi isu-isu yang muncul disekitar mereka, sedangkan konsep-konsep yang diwarisi dari generasi tua dalam organisasi tersebut sudah ketinggalan jaman, dan dianggap tidak mampu lagi meresponse permasalahan yang muncul. Namun disisi lain, menurut saya, ini juga terkait dengan ‘marketing strategy’, agar bisa muncul dan dikenal masyarakat, lalu menampilkan sosok diri yang memancing perhatian, melawan arus pemikiran ‘mainstream’. Kalau kicauan yang dikeluarkan tidak ada bedanya dengan apa yang selama ini disampaikan orang, bisa jadi tidak bakalan ada yang menggubris atau mengundang masuk televisi. 

Muhammadiyah memiliki kelompok intelektual muda yang didirikan tahun 2003, sempat menyelenggarakan ‘tadarusan pemikiran Islam’ yang membahas soal kontemporer seperti demokratisasi, hubungan antaragama, hak asasi manusia, kesetaraan gender, civil society, globalisasi, dan multikulturalisme, semuanya didasari sebuah sikap kritis dalam memahami persoalan sosial yang memerlukan "penyelesaian agama". Lalu dilanjutkan :” Semangat kembali kepada Al Quran dan Sunah Nabi Muhammad Saw (al-ruju' ila al-Quran wa al-Sunnah al-Nabawiyah) dalam ranah agama, bagi kalangan muda Muhammadiyah belumlah cukup, tanpa melibatkan diri dalam ranah sosial dan moral”. Ini sebenarnya bahasa lain dari pemikiran liberal, karena kemudian para intelektual muda Muhammadiyah ini beberapa kali muncul di media menyuarakan dukungan mereka terhadap paham pluralisme, kesetaraan gender dan bersikap penentangan kepada formalisasi syari’ah. 

Baru-baru ini muncul usulan menarik dari salah seorang yang menyatakan diri sebagai inteletual muda NU, tentang peluang bagi non-Muslim untuk menjadi pemimpin di Indonesia : 

"Konsekuensi dari demokrasi adalah kesetaraan bagi semua warga negara. Di negara demokrasi, siapapun bisa dipilih dan menjadi pemimpin. Kita harus coba sekali-kali cari pemimpin dari yang non-muslim. Kita harus beri kesempatan sebagai konsekuensi dari demokrasi," demikian intelektual muda ini menyampaikan pemikiran ‘cemerlang’nya. Dilanjutkan ;” Bila kran demokrasi juga dibuka secara tranparan, diyakini akan membuka peluang bagi munculnya para pemimpin alternatif. Tentu saja, dalam dunia demokrasi, publik juga harus menghukum dan memberi reward kepada pemimpin yang telah diberi amanah”. 

Mr. intelektual muda ini kelihatannya tidak mampu mengendalikan diri untuk mengemukakan pikiran yang sebenarnya sangat kontradiktif, justru bertentangan sendiri dengan dasar demokrasi yang sedang dia jelaskan. Tentu saja dalam paham demokrasi, semua orang berhak untuk mencalonkan diri. Tidak ada hambatan atas dasar apapun, termasuk agama yang dia anut. Namun terpilihnya orang tersebut menjadi pemimpin bukan untuk membuktikan bahwa negeri tersebut menganut paham demokrasi, tapi karena rakyat menentukan dengan bebas siapa orang yang mau mereka pilih. ‘Mengarahkan’ pilihan rakyat, bahkan dengan alasan untuk pembuktian paham demokrasi malah bertentangan dengan paham itu sendiri. Amerika Serikat, Perancis, Italia adalah negara yang sudah ratusan tahun menganut paham demokrasi. Tidak ada larangan bagi seorang Muslim untuk mencalonkan diri menjadi Presiden disana. Namun tidak ada juga pemikiran dari ‘intelektual muda’ mereka yang menyatakan :”Sebagai bukti negara kita mendukung paham demokrasi, maka sebaiknya kita pilih seorang Muslim untuk menjadi Presiden..”, faktanya setelah berlalu ratusan tahun memang tidak ada seorang Muslim-pun tercatat sebagai Presiden di Amerika Serikat dan Perancis. Kita tidak mengatakan negara kampiun demokrasi ini sebagai penganut paham demokrasi bohong-bohongan. Status mereka tersebut karena dalam setiap pemilihan pemimpin, rakyat disana bebas untuk menentukan pilihan sesuai apa yang mereka mau, dan bebas juga untuk tidak memilih orang yang memang mereka tidak mau. 

Saya jadi berpikir, entah siapa yang menyematkan status orang-orang ini sebagai intelektual muda, namun dari kiprah mereka, kebanyakan mereka paham betul bagaimana cara ‘menjual diri’ agar omongan didengar orang banyak, menarik perhatian, lalu diliput oleh media. Atau mereka paham kalau di negeri ini berlaku prinsip :"Makin ngawur omongan, makin laku diliput media..", sesuai kaedah 'media tidak akan tertarik memberitakan orang digigit anjing, tapi sangat antusias memuat kejadian orang menggigit anjing'. 

Para intelektual muda ini juga kelihatannya mengerti pepatah Arab : 'bul zam-zam fa tu'raf' - kencingilah zam-zam niscaya engkau akan terkenal.


5 komentar:

ketikan10jari said...

:) saya senang membaca postingan ini. bahasanya senderhana jadi mudah dimengerti. ijin link blog ini di lis link blog saya.

Arda Chandra said...

Alhamdulillah ternyata tulisan-tulisan disini menarik minat anda, semoga bermanfaat demi kebaikan kita semua..

Silahkan akhi, terima kasih atas perhatiannya..

Arief Fauzi said...

dunia serba aneh sekarang ini

Iesye said...

Hehehehe..makin ngawur makin sophisticated...

Engky said...

saya benci sekali dengan pemikiran liberal yang sudah merasuki orang-orang muda, yang menjadikan dia merasa paling benar dan keren karena menabrak pada mainstream....mereka menertawakan orang-orang shaleh yang ingin menegakkan syariat, mengolok-olok muslim/muslimah yang tengah berupaya menjaga aqidah akhlak dan ibadahnya agar tetap lurus...lebih senang berkawan dengan orang kafir daripada dengan mukminin...lebih senang membela kaum kafir meski mereka terang-terangan memusuhi Islam, daripada saudaranya sendiri yang tengah berupaya menjalankan ketakwaannya......semoga hidayah Allah tercurah padanya....